dotgo.id

dotgo.id

ADVERTISEMENT

Search This Blog

Powered by Blogger.
Kebun Binatang Ragunan Sejarah Taman Margasatwa Pertama di Indonesia Tempat Wisata Favorit Keluarga

On June 22, 2018 with No comments

Kebun Binatang Ragunan adalah taman atau suaka margasatwa pertama di Indonesia yang diresmikan oleh Gubernur DKI Ali Sadikin pada tanggal 22 Juni 1966 bertepatan dengan HUT Jakarta ke-439. Sejarah kebun binatang Ragunan ini sendiri bermula dari didirikannya Planten en Dierentuin atau Taman dan Kebun Binatang Cikini pada September 1864 di Jalan Cikini Raya Nomor 73, Menteng, Jakarta Pusat.

Saat pertama berdiri, Planten en Dierentuin ini menempati lahan seluas 10 hektar dan dikelola oleh Culture Vereniging Planten en Dierentuin at Batavia atau Perhimpunan Penyayang Flora dan Fauna Batavia. Planten en Dierentuin kemudian berubah nama menjadi Kebun Binatang Cikini pada tahun 1949. Pada tahun 1964, koleksi satwa di Kebun Binatang Cikini dipindah ke Ragunan.
Pengunjung di Kebun Binatang Ragunan
DOTGO.ID. Kebun Binatang, adalah sebuah taman yang menyerupai hutan buatan yang didalamnya terdapat banyak koleksi hewan dan juga tumbuh-tumbuhan yang dianggap langka dan terancam punah. Selain sebagai pusat konservasi dan penelitian, kebun binatang juga berfungsi sebagai tempat wisata atau rekreasi edukasi keluarga.

Di Indonesia, kebun binatang pertama dan terbesar berlokasi di Ragunan, Jakarta Selatan. Taman Margasatwa Ragunan juga memiliki koleksi hewan yang lebih banyak dan lengkap dibanding dengan kebun binatang lain di tanah air. Saat ini, Taman Margasatwa Ragunan menempati lahan seluas 174 hektare dengan sekitar 335 spesies hewan dan hampir 1000 spesies tumbuhan.

Sejarah Kebun Binatang Ragunan sendiri bermula saat Raden Saleh yang merupakan seorang pelukis paling kenamaan Indonesia menghibahkan lahan pekarangan seluas 10 hektar. Pada 1864, di atas lahan tersebut dibangun Planten en Dierentuin atau Taman dan Kebun Binatang. Kebun dan Taman Binatang ini sangat populer di kalangan masyarakat Batavia (kini Jakarta) karena terbuka untuk umum.

Memasuki pertengahan abad 20 antara tahun 1946-1949, Planten en Dierentuin berganti nama menjadi Kebun Binatang Cikini. Saat itu, Kebun Binatang Cikini menjadi salah satu tempat favorit warga Jakarta untuk berwisata. Namun demikian, lokasi Kebun Binatang Cikini yang berada di pusat kota ini tak memungkinkan lagi untuk berkembang. Kebun binatang ini tak bisa lagi diperluas padahal penambahan ruang untuk koleksi binatang masih tetap dilakukan.

Sekitar tahun 1964, Kebun Binatang Cikini lalu dipindahkan ke Ragunan. Kebun binatang baru pun dibangun di atas lahan seluas 85 hektar dengan menghabiskan waktu sekitar 2 tahun. Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin lantas meresmikan kebun binatang baru yang bertepatan dengan HUT Kota Jakarta ke-439, yakni pada tanggal 22 Juni 1966. Saat diresmikan, kebun binatang baru ini diberi nama Taman Margasatwa Jakarta.

Sepuluh tahun kemudian tepatnya 1974, Taman Margasatwa Jakarta kembali berubah nama menjadi Kebun Binatang Ragunan. Nama Kebun Binatang Ragunan bertahan hingga dua dekade lebih dan baru kembali diganti nama menjadi Taman Margasatwa Ragunan pada sekitar tahun 1999, saat areal kebun binatang ini diperluas menjadi 134 hektar lebih.

Sejarah panjang Kebun Binatang Ragunan yang telah mencapai usia 1,5 abad atau lebih dari 150 tahun ini juga tentunya menjadi daya tarik tersendiri. Selain sebagai salah satu tempat wisata paling favorit di Jakarta, Taman Margasatwa Ragunan juga menjadi suaka atau perlindungan hewan dari kepunahan. 90% koleksi binatang di Ragunan adalah hewan asli Indonesia dari seluruh pelosok nusantara.

Selain hewan asli Indonesia, cukup banyak pula koleksi binatang dari benua Asia, Afrika, Eropa hingga Amerika dan Australia. Beberapa koleksi tersebut bahkan tergolong sangat langka seperti Harimau Benggala, Harimau Putih, Singa, Kuda Nil, Jerapah, hingga golongan primata dari jenis kera sampai Simpanse atau Gorila.

Tingginya minat masyarakat untuk mengunjungi Ragunan, membuat pengelola menerapkan beberapa aturan salah satunya larangan memberi makan pada hewan demi menjaga kesehatan hewan itu sendiri. Selain larangan memberi makan, ada banyak aturan lain yang tujuannya untuk menjaga kelestarian lingkungan dan juga koleksi hewan yang ada di Ragunan.

Untuk memberi kenyamanan, pengelola Kebun Binatang Ragunan sendiri memberi jatah libur untuk hewan selama sehari dalam sepekan yakni hari Senin. Setiap hari senin, Taman Margasatwa Ragunan ditutup agar hewan bisa bebas berkeliaran tanpa adanya interaksi atau mungkin intimidasi dari pengunjung. Setiap Senin, koleksi hewan di Ragunan bisa hidup bebas dan tenang tanpa hiruk-pikuk dan suara-suara bising para pengunjung.

Selain libut setiap Senin, Kebun Binatang Ragunan sendiri tercatag pernah ditutup selama hampir sebulan pada tahun 2005. Saat itu, ada beberapa hewan yang terinfeksi flu burung hingga Ragunan ditutup untuk umum selama tiga pekan yakni sejak 19 September hingga 11 Oktober 2005. Selain flu burung, hewan koleksi di Ragunan juga sering mendapat gangguan pengunjung yang beberapa diantaranya cukup viral di jejaring sosial.

Saat akhir pekan, hari libur nasional, liburan sekolah terlebih hari lebaran, jumlah pengunjung di Taman Margasatwa Ragunan membludak dan meningkat berkali lipat dari hari-hari biasa. Pada libur lebaran 2018, jumlah pengunjung di Kebun Binatang Ragunan diperkirakan mencapai lebih dari 250.000 orang per hari. Saat libur lebaran 2018, tiket masuk Raguanan sendiri hanya Rp 5000 per orang dan Rp 15.000 untuk parkir mobil.

Bagi yang hobi traveling, Ragunan bisa menjadi salah satu tujuan berlibur karena banyaknya koleksi binatang dan juga suasana yang menyajikan nuansa alam liar. Dengan harga tiket yang terbilang sangat murah, Kebun Binatang atau Taman Margasatwa Ragunan menjadi salah satu tempat wisata favorit keluarga Indonesia.
Selain bisa menggunakan kendaraan pribadi, Taman Margasatwa Ragunan yang berlokasi di Jalan Harsono Nomor 1 Pasar Minggu ini sangat mudah dijangkau dengan angkutan umum. Selain angkutan kota seperti mikrolet, Kopaja dan Metromini, tersedia juga Bus Transjakarta yang beberapa koridornya melayani rute ke Ragunan. mch/baim
Ayam Goreng Brebes Rumah Makan Enak di Lembang, Sambal Dadakan yang Nikmat dan Nendang

On June 19, 2018 with No comments

Rumah Makan Brebes Lembang, adalah salah satu tempat makan yang menyajikan menu utama ayam goreng dan ayam bakar dengan sambal dadakan yang rasanya cukup nikmat. Selain ayam goreng dan ayam bakar, tersedia juga menu kuliner lain seperti ikan, bebek, jeroan, gepuk daging, tahu tempe dan juga lalapan segar.
Rumah makan brebes ayam goreng sambal dadakan kuliner enak di lembang
Ayam Goreng Brebes, kuliner enak di Lembang
DOTGO.ID. Kuliner. Ayam Goreng Brebes, adalah salah satu kuliner yang sudah sangat populer di kawasan Lembang, Bandung Barat. Di daerah yang terkenal dengan tempat wisatanya tersebut, Rumah Makan Brebes kerap menjadi pilihan untuk tempat makan bagi warga yang kebetulan melintas atau sedang berlibur di sekitar Lembang.

RM Brebes sendiri sangat mudah dijangkau karena berlokasi di sisi kanan jalan dan bersebelahan dengan RM Ampera di jalur Lembang arah Subang. Ayam Goreng Brebes beralamat di Jalan Raya Lembang Nomor 272, telepon 022 2786012. Tempat makan enak di Lembang ini berada di sekitar pasar buah dan pusat oleh-oleh.

Selain menyajikan menu andalan berupa ayam kampung  goreng, di Rumah Makan Brebes juga tersedia bermacam lauk pauk seperti ikan goreng atau ikan bakar, bebek, gepuk daging, jeroan hingga tahu dan tempe. Untuk lalapan, ada petai goreng dan juga lalapan segar seperti mentimun dan aneka sayuran.

Selain lauk pauk, yang paling diburu oleh sebagian pecinta kuliner adalah sambal dadakan RM Brebes yang rasanya sangat khas. Bagi yang suka sambal pedas, mampir di RM Brebes tentunya tak akan mengecewakan. Selain sambal dadakan, tersedia juga sambal biasa yang sudah digoreng dan diracik dengan bumbu spesial.

Bagi para pemburu kuliner, Ayam Goreng Brebes sepertinya memang sudah tak asing lagi. Menurut sebagian orang, belum lengkap rasanya jika traveling ke kawasan wisata Lembang tapi tak sempat makan di Rumah Makan Brebes. Bersama beberapa tempat kuliner lain, RM Brebes seolah sudah menjadi ikon kuliner Lembang.

Sejarah Rumah Makan Brebes Lembang sendiri berawal dari gerobak dorong di tahun 1980-an. Saat semakin laris dan terkenal, Ayam Goreng Brebes kemudian menjadi sebuah rumah makan yang lumayan besar. Menurut salah satu pekerjanya, rumah makan ini mulai dibangun pada sekitar tahun 1989.

"Awalnya cuma gerobak dorong seperti kuliner ayam goreng lain yang memang banyak di Lembang. Saya sudah ikut membantu sejak masih gerobak dorong, sampai rumah makan ini dibangun tahun 1989. Dulu masih dikelola sama bapaknya, sekarang mah sudah dipegang sama anak-anaknya."

Kawasan Lembang sendiri adalah salah satu daerah yang sangat terkenal karena banyaknya tempat wisata favorit keluarga. Selain karena udara pegunungan yang sejuk, keberadaan ragam kuliner di kawasan ini juga tentunya menjadi daya tarik tersendiri.
Saat melakukan traveling atau berlibur di Lembang, cukup banyak objek wisata hingga tempat kuliner yang bisa dikunjungi salah satunya Ayam Goreng Brebes ini. Selain tempat makan, Lembang juga terkenal karena olahan tahu seperti Tahu Tauhid atau Tahu Susu Lembang. mch/baim
Jalan Alternatif Puncak Via Ciawi-Taman Safari, Solusi Alternatif Saat Puncak Macet dan Ditutup Total

On June 19, 2018 with No comments

Jalan alternatif menuju Puncak salah satunya bisa melalui Gerbang Tol Ciawi lalu masuk Jalan Pertanian dan keluar di sekitar Taman Safari. Jalur alternatif ini terbilang cukup mudah dan cukup layak untuk dipilih dan bisa menjadi solusi tepat saat terjadi rekayasa lalu lintas buka-tutup di kawasan Puncak. Selain itu, jalan alternatif ini juga memberi tantangan tersendiri bagi yang hobi traveling.

Ketimbang mengikuti joki dengan bayaran lumayan mahal, jalur Ciawi via Jalan Pertanian-Taman Safari ini bisa ditempuh meski hanya bermodal GPS atau bisa juga bertanya pada warga setempat yang berdiri di setiap tikungan atau titik-titik rawan sambil meminta uang saweran. Jangan lupa siapkan uang koin atau uang kertas pecahan terkecil karena dibutuhkan
Jalan alternatif menuju puncak melalui ciawi-Jalan pertanian mudah dan cepat sampai taman safari
Jalan alternatif Puncak, Ciawi-Taman Safari
DOTGO.ID. Wistata. Puncak adalah salah satu kawasan favorit untuk berlibur bagi warga di seputaran DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten. Tak hanya itu, Puncak juga menjadi destinasi wisata yang paling menarik bagi wisatawan Indonesia bahkan turis mancanegara. Karenanya, pada waktu-waktu tertentu lalu lintas di kawasan Puncak sering mengalami kemacetan luar biasa hingga harus dilakukan rekayasa buka tutup jalan.

Buka-tutup jalan Puncak dilakukan saat kendaraan di kawasan ini sangat padat seperti di akhir pekan, hari libur nasional, liburan sekolah terlebih lagi saat hari lebaran. Khusus di hari lebaran Iedul Fitri, buka-tutup jalan di jalur Puncak bisa lebih lama dan berlangsung selama berjam-jam bahkan bisa dari siang hingga menjelang malam.

Saat kendaraan yang turun dari Puncak menuju Tol Jagorawi mendapat giliran, maka seluruh kendaraan yang hendak naik menuju Puncak akan ditahan di exit tol Gadog karena seluruh ruas jalan akan digunakan untuk kendaraan yang turun. Tak ada mobil yang bisa melintas atau naik kecuali sepedah motor. Begitu sebaliknya.

Namun meski buka-tutup sendiri berlaku untuk kedua arah, kendaraan dari Tol Jagorawi menuju Puncak yang paling sering mengalami penutupan juga dengan durasi lebih lama. Sementara kendaraan roda empat atau mobil dari arah Puncak menuju Jagorawi terbilang jarang mengalami penutupan jalur, sekalipun ada durasinya bisa lebih singkat.

Saat jalur naik ke Puncak ditutup, maka seluruh kendaraan roda empat atau mobil akan tertahan di gerbang keluar Tol Gadog. Saat memasuki libur lebaran, penutupan jalur ini bisa berlangsung berjam-jam bahkan dari siang hingga menjelang maghrib.

Ketika terjebak buka-tutup di jalur Puncak, pengendara hanya punya dua pilihan yakni diam menunggu atau mencari jalan alternatif menuju Puncak. Alternatif pertama, bisa menyewa jasa joki dengan bayaran sekitar Rp 100.000-an. Joki akan mengarahkan kendaraan untuk masuk rest area lalu menerobos dinding dan masuk ke jalan kampung.

Alternatif lain adalah melalui gerbang Tol Ciawi menuju Taman Safari Indonesia via Jalan Pertanian. Jalan alternatif ini terbilang yang paling direkomendasikan karena tak perlu membayar joki dan juga keluar di jalur yang lebih tinggi (dari yang ditawarkan joki) yakni di sekitar Taman Safari.

Saat ada antrean panjang karena penutupan jalur di exit tol Puncak (Gadog), langsung saja ambil lajur kanan dan menuju gerbang tol Ciawi. Setelah keluar di GT Ciawi, ambil jalan arah kiri menuju Gadog atau Puncak. Terus jalan (sejauh antara 2-3 km) atau hingga bertemu plang Jalan Alternatif Puncak di sebelah kanan jalan.

Langsung saja belok kanan masuk ke Jalan Pertanian, dan lanjutkan perjalanan menuju arah Taman Safari Indonesia. Selain mengikuti arah petunjuk atau plang jalan, bisa juga memanfaatkan GPS untuk panduan. Jika merasa ragu, bisa tanyakan pada warga setempat yang banyak berdiri di tikungan atau titik-titik (jalan sempit) yang dianggap rawan saat bersimpangan.

Siapkan uang koin atau recehan untuk warga (pengatur jalan) yang pada hari lebaran jumlahnya bisa lebih banyak. Saat memberi uang, jangan sungkan untuk bertanya karena mereka juga akan dengan senang hati menjawabnya. Berbeda dengan di DKI, Pak Ogah di kawasan ini tak memaksa dan tetap ramah meski pengendara tak memberi recehan.

Saat melintas di jalan alternatif Puncak via Ciawi, pengendara akan disuguhi suasana yang lumayan menantang. Selain hamparan perkebunan dan pemukiman warga, di beberapa titik akan ditemui jalan yang cukup sempit dengan jurang di sisi kiri atau kanan. Rute yang menantang ini sangat pas bagi yang hobi traveling dan berjiwa petualang.

Setelah melakukan perjalanan yang cukup menantang dan melelahkan selama kurang lebih 2 jam (tergatung kondisi jalan dan kecepatan kendaraan), maka pengendara akan bisa langsung keluar di Jalan Raya Puncak di sekitar Taman Safari. Jika arah Puncak masih ditutup, cari tempat parkir yang aman sambil beristirahat dan menunggu jalan kembali dibuka.

Dibanding jalan alternatif dengan petunjuk joki yang keluar tak jauh dari simpang Gadog, jalan alternatif Puncak via Ciawi-Jalan Pertanian yang keluar di sekitar Taman Safari ini tentu saja lebih layak untuk dipilih. Selain sudah lebih dekat ke kawasan Puncak, rute ini juga menyajikan perjalanan yang menantang dan menyenangkan. 
Saat berlibur, sebaiknya sudah melakukan reservasi atau boking hotel untuk menginap. Karena jika pemesanan dilakukan secara mendadak, biasanya hotel, villa atau bungalow di kawasan Puncak sering penuh. Keuntungan boking hotel atau villa sebelum berlibur juga biasanya akan mendapat diskon liburan yang cukup lumayan. mch/baim
Jembatan Gantung Desa Muara Blanakan, Jembatan Gantung Kali Ciasem yang Macet Saat Lebaran

On June 15, 2018 with No comments

Jembatan Gantung Desa Muara menampakan suasana yang sangat berbeda saat hari raya Iedul Fitri atau Lebaran. Karena menjadi satu-satunya akses penghubung paling vital antara desa Muara-Tanjungtiga dan sekitarnya, tak ayal kemacetan selalu terjadi karena banyaknya warga yang hendak melintas di jembatan yang melintang di atas sungai Ciasem ini.
Jembatan gantung desa muara tanjungtiga blanaka suban video
Keramaian Jembatan Gantung Desa Muara saat Lebaran
DOTGO.IDHari Raya Iedul Fitri yang jatuh pada Jumat 15 Juni disambut sangat antusias oleh seluruh umat Islam di Indonesia tak terkecuali juga masyarakat Desa Muara dan Tanjungtiga. Selepas melaksanakan shalat ied, warga di kedua desa yang masuk ke dalam wilayah Kecamatan Blanakan ini lantas bersilaturahmi dan saling mengunjungi.

Untuk bisa berkunjung satu sama lain, warga di kedua desa ini sangat mengandalkan Jembatan Gantung Desa Muara yang dibangun sejak tahun 1965. Meski ada juga perahu penyeberangan, namun jembatan gantung ini tetap menjadi pilihan utama warga.

Saat memasuki hari lebaran, pemilik jembatan gantung lantas mengatur jumlah kendaraan roda dua yang melintas agar tak terlalu membebani jembatan. Jika tak diatur, maka warga yang hendak melintas akan saling mendahului. Saat seluruh warga yang mgendarai motor melintas secara bersamaan maka bebannya akan melebihi kapasitas jembatan.

"Kami mengatur dengan menutup pintu masuk jembatan dengan pagar bambu di bagian barat. Tak boleh melintas bersamaan karena membahayakan. Di seberang barat ada tiga orang yang mengatur, di seberang timur ada dua. Ini demi keselamatan bersama," ujar Lurah Darman yang kali ini nampak membawa serta anggota keluarganya.

Sebagai catatan, jembatan gantung ini pernah ambruk di tahun 1980-an. Saat itu, seling atau tali baja yang menjadi penyangga utama jembatan putus karena tak mampu menahan beban ratusan warga Tanjuntiga yang menyebrang secara bersamaan sepulang menghadiri acara pengajian yang diisi oleh salah satu penceramah kondang asal Jakarta.

Hinngga pukul 14.30 WIB sore ini, suasana di sekitar Jembatan Gantung Desa Muara masih sangat ramai oleh antrian warga yang hendak menyeberang. Menurut pemilik jembatan, antrian warga sempat macet pada sekitar pukul 08.30. "Tadi pagi sekitar setengah sembilan kami sempat kewalahan saking banyaknya warga yang mau nyeberang."

Selain menjadi akses vital bagi warga Desa Muara dan Tanjungtiga, jembatan ini juga menjadi prasarana transportasi penting bagi warga dari daerah sekitarnya seperti dari wilayah kecamatan Sukasari dan Pamankan bahkan hingga daerah Cilamaya Karawang.

Meski menampakan keramaian saat siang hari, namun jembatan gantung ini juga menyimpan kisah mistis yang menyeramkan. Konon, di sekitar jembatan ini kerap ditemui sosok mahluk halus yang oleh masyarakat sekitar disebut kuntilanak. Saat malam hari, di sekitar jembatan memang terasa sangat horor karena suasana yang gelap dan sepi.

Eksistensi Jembatan Gantung Desa Muara sejak puluhan tahun silam, tentunya membuat jembatan ini sangat dikenal luas hingga ke berbagai daerah di seputaran Subang, Karawang bahkan hingga Indramayu. Jembatan Gantung Desa Muara adalah jembatan yang cukup legendaris dan terkenal mistis.
Video Jembatan Gantung Kali Ciasem Desa Muara
Namun demikian, keberadaan jembatan ini mulai sedikit terancam seiring dengan dimulainya pembangunan jembatan permanen. Sayangnya, progres pembangunan jembatan permanen sendiri masih belum jelas. Jembatan permanen yang sangat diharapkan oleh warga kini malah terkesan mangkrak. mch/baim
Sambut Malam Lebaran, Masyarakat Desa Muara Blanakan Antusias Menggelar Takbiran

On June 14, 2018 with No comments

Hari Raya Iedul Fitri atau Lebaran yang jatuh pada Jumat 15 Juni 2018 disambut dengan penuh kebahagiaan oleh umat Islam di seluruh pelosok Indonesia. Sejak selepas menunaikan shalat isya berjamah, gema takbir berkumandang di masjid-masjid, Mushala atau langgar. Selain itu, tak sedikit dari kelompok warga yang terdiri dari anak-anak muda yang menggelar takbir keliling.
Malam Takbiran di Mushala Nurul Hidayah
DOTGO.IDKamis 14 Juni malam, suasana begitu semarak dan diliputi rasa kebahagiaan karena umat Islam di seluruh Indonesia tengah menyambut datangnya hari lebaran. Selepas menunaikan shalat isya berjamaah, gema takbir pun langsung berkumandang di seluruh penjuru tanah air.

Seperti halnya umat Islam di daerah lain, masyarakat Desa Muara Blanakan Subang juga tak kalah antusias menyambut malam lebaran. Gema takbir saling bersahutan dari satu masjid ke masjid lain, dari mushala yang satu ke mushala yang lainnya. Bahkan saat ini, sudah ada sekelompok remaja yang menggelar takbir berkeliling desa.

Suasana malam takbiran juga terasa sangat semarak di Dusun Sukaasih tepatnya di Mushala Nurul Hidayah. Saat ini, di mushala atau langgar yang bersebelahan dengan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Al Islam juga sedang dilaksanakan malam takbiran yang dilakukan oleh sekelompok warga.

Lantunkan kalimat tahlil, tahmid dan takbir di mushala ini juga diriingi oleh pukulan bedug yang bertalu-talu yang memang sudah menjadi adat secara turun temurun. Saat sekelompok warga menggelar takbiran, warga yang lain lantas menyediakan jamuan berupa makanan dan minuman.

Menurut seorang warga, takbiran di mushala ini terbilang yang paling semarak dibanding mushala atau masjid lain. Ia menyebutkan malam takbiran di Mushala Nurul Hidayah di Dusun Sukaasih ini akan berlangsung sampai menjelang subuh. 

"Kalau di sini takbirannya sampai subuh. Setelah shalat subuh berjamaah kami baru pulang dan langsung berangkat ke masjid untuk shalat Ied," ujar Ustadz Wahyuddin Ilham saat ditemui ketika memimpin takbiran.
Seperti halnya warga dusun Sukaasih yang lain, jamaah Mushala Nurul Hidayah di RT 03/RW 03 ini juga akan melaksanakan Shalat Ied di Masjid Jamie Thoriqul Huda yang berjarak sekitar 1,5 kilometer ke arah utara. Selain menjadi tempat dilaksanakannya shalat ied, Masjid Thoriqul Huda juga menjadi tempat pengumpulan Zakat Fitrah warga setempat. mch/baim