ADVERTISEMENT

Search This Blog

Powered by Blogger.

Mamanukan dan Sisingaan, Budaya Masyarakat Subang Menyambut Prosesi Sunatan

On April 27, 2017 with No comments

Sisingaan, Arak-arakan atau Kuda Depok, adalah ragam budaya masyarakat Jawa Barat yang berkembang pesat terutama di daerah Subang, sebagian Bandung, Karawang, Indramayu, Cirebon hingga ke daerah perbatasan Jawa Tengah. Menurut catatan sejarah, jenis kesenian ini pertamakali lahir dan dikenal oleh masyarakat Kabupaten Subang.
Sisingaan dan Arak-arakan (Mamanukan) kesenian khas Subang
DOTGO.ID. Budaya. Jawa Barat, adalah salah satu daerah yang dikenal memiliki beragam tradisi yang sangat unik dan khas. Di Jawa Barat, kesenian dan budaya sudah menkadi tradisi yang turut mempengaruhi kehidupan masyarakatnya. Tak hanya dalam keseharian, tradisi masyarakat Jawa Barat juga bahkan turut mewarnai prosesi keagamaan, salah satunya khitanan.

Khitanan atau sunatan dalam bahasa daerah khususnya di Jawa Barat, adalah salah satu ritual atau prosesi bagi setiap anak laki-laki Muslim. Sunatan adalah proses pembersihan diri secara lahir yang sudah berlangsung sejak zaman Nabi Ibrahim AS.

Di Jawa Barat, cukup beragam budaya dan adat istiadat masyarakat yang turut mengiringi dan melengkapi prosesi khitan ini. Biasanya, akan ada prosesi budaya atau tradisi dan kesenian yang dipadukan dengan kearifan lokal masyarakat Jawa Barat jelang Sunatan.

Kuda renggong, Degung, Pergosi odong-odong atau Sisingaan hingga arak-arakan dan parade budaya lainnya adalah beberapa jenis kesenian yang sudah terbiasa menyemarakan acara khitanan di berbagai daerah di provinsi Jawa Barat.

Di wilayah utara Jawa Barat khususnya di Kabupaten Subang, masyarakat mengenal adanya Sisingaan atau kadang juga disebut Pergosi. Pergosi atau Sisingaan adalah sebuah tandu berbentuk singa yang mana nantinya anak yang akan dikhitan ini akan naik ke atasnya dan lantas diarak berkeliling kampung dengan diiringi musik berupa kendang pencak, terompet, kemong (gong kecil) dan gong.

Sisingaan atau Pergosi Odong-Odong (Citot) yang merupakan budaya Buhun masyarakat Subang ini juga biasanya mempraktekan seni pencak silat. Selain mempraktekan jurus-jurus silat, Sisingaan juga diiringi seni sulap terkadang juga atraksi Debus, yaitu menusuk atau mengiris bagian tubuh dengan benda tajam seperti silet, pisau, atau jarum.

Di pesisir utara Subang dari mulai perbatasan Karawang hingga Indramayu, budaya Sisingaan sendiri mulai terkikis oleh hadirnya arak-arakan jenis baru yang menggunakan bermacam bentuk hewan pengganti Singa. Musik pengiringnya pun sudah berganti dari seni tradisional asli Jawa Barat, dengan musik modern Cirebonan dengan beat yang menghentak.

Tak hanya masyarakat di Pantura Subang. Belakangan arak-arakan 'jenis baru' ini juga mulai digemari dan merambah ke wilayah selatan Subang yang memiliki perbedaan dalam kultur budaya dan bahasa. Hal itu sangat mungkin dikarenakan anak-anak yang akan menjadi Pengantin Sunat ini merasa lebih tertarik menaiki Sisingaan jenis baru yang lebih mewah dan meriah.

Secara budaya, kesenian jenis baru yang lahir karena adanya percampuran atau asimilasi budaya ini tak lagi memiliki atau mewakili entitas seni masyarakat Jawa Barat. Kesenian jenis ini adalah kesenian modern berorientasi komersil yang mengadopsi budaya sisingaan sebagai budaya asli masyarakat Subang, Jawa Barat.

Sisingaan yang dahulu selalu diiringi gerak pencak yang elegan kini mulai berganti dengan tari-tarian populer seiring dengan hentakan musik Cirebonan atau Pantura. Tak ada lagi kawih atau kidung Buhun yang akan mampu membangkitkan rasa kecintaan masyarakat kepada seni dan tradisi leluhurnya.

Kehadiran Sisingaan atau Arak-arakan jenis baru yang kini lebih dikenal dengan sebutan Mamanukan ini tentunya menjadi sebuah kehilangan besar bagi sebagian masyarakat yang masih merindukan kesenian tradisional Sisingaan yang merupakan seni budaya asli warisan leluhur.
Bukan tidak mungkin pula jika dalam 50 atau 100 tahun kedepan kesenian ini tak lagi dikenal oleh masyarakat Subang dan tanah Pasundan. Namun demikian, tentunya masih tetap ada sebagian kecil masyarakat Subang yang masih berusaha untuk tetap mencintai dan melestarikan kesenian asli Sisingaan atau Pergosi. mch/baim
-->
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »