ADVERTISEMENT

Search This Blog

Powered by Blogger.
Gatotkaca Jadi Raja Lakon Wayang Jawa Brajamusti Gugat Bagian Ketiga

On January 21, 2020 with No comments

Gatotkaca dan Brajamusti terlibat perang tanding yang hebat, beradu kuat dan ilmu kesaktian. Keduanya terlibat adu tanding karena Brajamusti tetap ngotot meminta Gatotkaca turun takhta. Dalam lakon Gatotkaca menjadi Raja, Brajamusti menggugat Gatotkaca yang telah naik takhta menjadi raja muda di Kraton Pringga.
Baramusti Gugat Gatotkaca Jadi Raja Pringgandani
Gatotkaca Dadi Raja Lakon Wayang Kulit Jawa
Wayang kulit Gatotkaca Dadi Raja adalah salah satu lakon yang cukup populer karena melibatkan tokoh Brajamusti yang sangat dikenal karena ilmu dan kesaktiannya. Brajamusti adalah jelmaan dari khodam (isi) keris pusaka milik Prabu Arimba.

Dikisahkan sebelumnya, Brajamusti yang datang menemui Dewi Arimbi di Kraton Pringondani ini langsung menuntut agar dirinya diberi takhta raja. Namun Arimi menolak, dan memberi kesempatan pada Gatotkaca untuk mengambil keputusan.

Gatotkaca dan Brajamusti pun terlibat perdebatan sengit. Meski demikian, Gatotkaca tetap berlaku hormat karena Brajamusti adalah adik angkat Arimbi. Namun karena Brajamusti tetap ngotot, keduanya lalu terlibat perang tanding dengan sengit.

Dikisahkan, Barjamusti yang sangat sakti ini memiliki ilmu pukulan tangan yang sangat dahsyat. Jangankan manusia, tembok batu, besi dan baja pun akan hancur lebur jika terkena pukulan tangan Brajamusti.

Namun Gatotkaca juga bukan pemuda sembarang, ia memiliki banyak ilmu kesaktian setelah digodok di Kawah Candradimuka, oleh para Dewa di Sura Laya atau Kahyangan.

Brajamusti dan Gatotkaca pun saling adu pukul, adu tendang dan beradu ketahanan tubuh. Paman dan keponakan itu pun terlibat perkelahian yang sangat seru.

Lama kelamaan, Brajamusti yang sakti ini mampu unggul dari Gatotkaca. Meski Gatotkaca memiliki ilmu dari para Dewa, namun Brajamusti ternyata mampu mendesak Gatotkaca.

Melihat kondisi tersebut, Dewi Arimbi ibunda Gatotkaca merasa sangat iba. Ia kemudian meraga sukma dan masuk ke dalam raga Gatotkaca. Brajamusti merasa terkejut karena Gatotkaca yang sudah terdesak tiba tiba berubah dan lebih kuat dari sebelumnya.

Brajamusti lalu pergi dari arena perang tanding dan langsung mencari Dewi Arimbi. Brajamusti merasa curiga jika kakak angkatnya itu sudah ikut membantu dengan cara meraga suka ke dalam tubuh Gatotkaca.

Dewi Arimbi pun segera keluar dari raga Gatotkaca dan kembali ke tempat semula. Melihat Dewi Arimbi seperti sangat kelelahan, Brajamusti langsung menuduh Dewi Arimbi sudah meraga sukma ke Gatotkaca. Tapi Arimbi tetap kukuh membantah.

Brajamusti lalu pergi meninggalkan Arimbi dan kembali ke arena perang tanding. Gatotkaca pun langsung bersiap untuk kembali bertarung melawan Brajamusti.

Keduanya kembali terlibat adu tanding dan lagi lagi Gatotkaca terdesak hingga hampir jatuh dan kalah. Melihat itu, Dewi Arimbi kembali meraga suka dan masuk ke dalam tubuh Gatotkaca.

Gatotkaca pun kembali bangkit dan mampu mengimbangi bahkan hampir bisa mengalahkan Brajamusti. Dengan bantuan kekuatan Dewi Arimbi yang masuk ke dalam raganya, Gatotkaca menjadi lebih kuat dan tangguh.
Tanpa bantuan Ratna Arimbi, ilmu Gatotkaca dari para Dewa termasuk Kotang Antakusuma, Sinjang Basunanda, Kasut Padakacarma, Benting (sabuk) Wesi Pura, hingga Selendang Ratna  Singa Wiring masih belum bisa menandingi kekuatan Brajamusti, manusia jelmaan dari sebilah keris pusaka sakti ini.
Perang Tanding Gatotkaca Melawan Brajamusti
Meski demikian, ilmu dan pakaian dari para Dewa ini tetap mampu membuat Gatotkaca bertahan dan tak menemui ajal (mati) saat dihantam pukulan tangan Brajamusti yang dahsyat dan sangat kuat. Lanjut bagian 4
Gatotkaca Dadi Raja Lakon Wayang Jawa Brajamusti Gugat Bagian Kedua

On January 21, 2020 with No comments

Brajamusti yang mengugat Gatotkaca karena putera Dewi Arimbi tersebut dijadikan raja muda di negeri Pringgandani adalah salah satu lakon wayang kulit yang cukup populer. Meski takhta Pringgadani sudah resmi diserahkan ke Gatotkaca, namun Brajamusti tetap kukuh dan memaksa Dewi Arimbi untuk mencabut mandat raja tersebut.
Gatotkaca melakukan Perang Tanding dengan Brajamusti lakon Wayang Jawa
Gatotkaca Menjadi Raja dan Gugatan Brajamusti
Wayang Kulit adalah seni tradisi (budaya) yang sudah melekat di hati sebagian masyarakat Jawa. Dan meski bersumber dari kitab Mahabharata, namun wayang versi Jawa memiliki beberpa lakon gubahan populer, salah satunya Gatotkaca Dadi Raja.

Gatotkaca Dadi Raja sendiri menceritakan kisruh yang terjadi di dalam keraton Pringgandani atau negeri Plawangan. Cerita bermula saat Brajamusti datang menuntut agar dirinya bisa menjadi raja.

Padahal sebelumnya, belum lama Gatotkaca juga dinobatkan jadi raja muda di negeri Pringgandani. Dewi Arimbi dan adiknya Praba Kesa sepakat menjadikan Gatotkaca atau Gagak Sengara menjadi raja, karena putranya tersebut dirasa sudah cukup dewasa.

Dikisahkan sebelumnya di bagian pertama, setelah menemui Resi Karpa, Brajamusti yang kukuh ingin menjadi raja ini langsung menuju ke negri Pringgadani untuk menemui Dewi Arimbi.

Brajamusti yang memiliki kesaktian luar biasa ini merasa sangat percaya diri, bahwa dirinya yang pantas menjadi raja. Brajamusti pun langsung menemui Dewi Arimbi di kraton Pringgadani.

Keduanya lalu bertemu dan saling sapa layaknya kakak beradik. Meski demikian, Dewi Arimbi memiliki firasat buruk, karena kehadiran Brajamusti yang datang secara tiba tiba, dengan raut muka berbeda.

Tanpa banyak basa basi, Brajamusti pun langsung meminta takhta raja negri Pringgandani. Namun Dewi Arimbi tak bisa menyanggupi, karna takhta kerjaan Pringgadani sudah diserahkan kepada Gatotkaca.

Brajamusti dan Gatotkaca lalu terlibat pembicaraan yang menjurus pada perdebatan. Saat Brajamusti meminta Gatotkaca secara suka rela menyerahkan gelar raja, Gatotkaca pun dengan teguh bertahan.

Perdebatan sengit antara Gatotkaca dan Brajamusti pun berakhir dengan perselisihan. Keduanya lantas ke luar, dan bersiap untuk adu tanding, beradu ilmu dan kesaktian.

Brajamusti merasa yakin karena memiliki kekuatan pada pukulan tangan kanan yang sangat dahsyat. Dalam hatinya berkata, akan bisa dengan mudah merobohkan Gatotkaca.

Terlebih, Brajamusti ingin membalas kekalahan Prabu Arimba (kakak Arimbi dalam versi wayang Jawa) yang tewas oleh Bima Jaya Sena (ayah Gatotkaca), saat bertempur di dasar Bengawan Serayu.

Sementara sebagai ksatria muda, Gatotkaca juga merasa pantang untuk mundur. Terlebih, Gatotkaca adalah benteng Kadewatan yang juga memiliki banyak kesaktian.

Saat digodok di Kawah Candradimuka, segala macam jenis senjata Kadewatan ini dikisahkan melebur menjadi satu dalam tubuhnya. Gatotkaca digambarkan berkulit baja, berotot kawat dan bertulang besi.

Tak hanya itu, para Dewa juga membekali Gatotkaca dengan baju kotang (seperti rompi) Antakusuma, Sinjang Basunanda dan juga terompah atau kasut Padakacarma. Sabuk Dalam versi Wayang Golek Sunda, Gatotkaca bahkan memiliki Ajian Waringin Sungsang yang langka.
Dengan baju Antakusuma, Gatotkaca bisa terbang ke angkasa. Sedang Wasunona bisa membuat ia terhindar dari panas, hujan dan angin. Kasut Padakacarma membuat Gatutkaca ditakuti oleh setiap mahluk gaib yang jahat.
Perang Tanding Gatotkaca Melawan Brajamusti
Pertempuran antara Gatotkaca dan Brajamusti ini tentu menjadi sebuah perkelahian dahsyat karena melibatkan dua tokoh yang digambarkan sangat sakti dalam dunia pewayangan Jawa saat ini. Lanjut bagian 3
Gatotkaca Dadi Raja Lakon Wayang Jawa Brajamusti Gugat Bagian Pertama

On January 20, 2020 with No comments

Gatotkaca Dadi Raja adalah salah satu lakon wayang kulit versi wayang Jawa yang cukup populer. Gatotkaca yang menjadi raja di negeri Pringgadani atau Plawangan ini mendapat tantangan dari Brajamusti, yang dalam wayang versi Jawa adalah adik dari Dewi Arimbi, ibunda Gatotkaca.
Gatotkaca Dadi Raja Sejarah Hidup Brajamusti
Wayang Kulit Lakon Gatotkaca Jadi Raja
Wayang Kulit adalah seni tradisi masyarakat Jawa yang diadopsi dari kisah epik negeri Gangga India, yakni kitab Mahabharata. Meski secara garis besar sama, namun banyak lakon versi wayang Jawa ini adalah gubahan, salah satunya Gatotkaca Dadi (jadi) Raja.

Gatotkaca Dadi Raja adalah sebuah kisah yang cukup terkenal dan kerap dipentaskan oleh banyak dalang wayang Jawa, baik di Jawa Timur, Jawa Tengah, atau pun di sebagian wilayah Jawa Barat (Pantura)

Dikisahkan, Gatotkaca yang mulai beranjak dewasa ini diangkat menjadi raja di Pringgondani, setelah sebelumnya ditempa di Kawah Candra Dimuka, di Kahyangan Sura Laya.

Sebelumnya, Gatotkaca atau Tetuka yang dalam versi wayang Jawa juga dikenal sebagai Gagak Sengara ini mendapat tugas untuk mengalahkan Naga Percona, seorang maha raja raksasa yang ingin menguasai Kadewatan.

Untuk mengalahkan Naga Percona, Gatotkaca lalu digodok di Kawah Candradimuka, bersama dengan bermacam senjata sakti milik para Dewa. Karenanya, Gatotkaca menjelma menjadi ksatria gagah perkasa pilih tanding.

Setelah mengalahkan Naga Percona dan kembali ke Negeri Plawangan atau Pringgadani, Raden Tetuka atau Gatotkaca lantas diangkat menjadi raja muda menggantikan Dewi Arimbi, ibunya.

Sayangnya, upaya Ratu Arimbi dan adiknya Praba Kesa untuk bisa mendaulat Gatotkaca menjadi raja ini mendapat tantangan dari Brajamusti, yang dalam versi wayang Jawa juga disebut sebut sebagai adik dari Arimbi.

Suatu hari, Brajamusti menghadap Resi Karpa (ayah Arimbi), dan mengutarakan niat untuk bisa menjadi raja di Pringgadani. Dengan tegas, Resi Karpa melarang, namun Brajamusti tetap kukuh dan bersikeras.

Menurut Resi Karpa, Brajamusti bisa menjadi raja di negara mana saja, asal tidak di negeri Pringgadani, Hastina, dan Amarta. Dalam versi Mahabharata, Resi Karpa atau ayah Arimbi ini dikenal dengan nama Resi Arimbaka.

Brajamusti yang tetap bersikeras lantas pergi menuju kraton Pringgandani di negeri Plawangan, untuk menemui Dewi Ratu Arimbi, dan menuntut haknya agar bisa menjadi raja di negeri tersebut.

Menurut pitutur Ki Dalang Sutriya Cakra Baskara, Brajamusti adalah tokoh wayang Jawa yang tak ada dalam versi asli Mahabharata. Brajamusti adalah jelmaan dari (khodam) keris pusaka Prabu Arimba yang berubah wujud menjadi manusia setengah jin.

Sejarah Wayang Baramusti sendiri bermula saat Bedah Benteng Mataram. Alkisah, Keris Brajamusti milik Prabu Arimba (kakak Arimbi dalam versi wayang Jawa) ini beradu sakti dengan Tombak Pusaka Kyai Plered.

Setelah terkena tuah Tombak Kyai Plered, keris pusaka milik Prabu Arimba yang sakti ini lantas berubah wujud menjadi sosok Brajamusti, seperti yang kita kenal dalam dunia Wayang Jawa saat ini.

Dalam Babad Tanah Jawa, Tombak Kyai Plered adalah pusaka sakti milik Sultan Hadiwijaya dari Pajang. Tombak Kyai Plered lantas dipinjamkan pada Sutawijaya saat akan bertempur dengan Haryo Penangsang di tepian Bengawan Solo.

Setelah berhasil mengalahkan Haryo Penangsang dari Jipang, Danang Sutawijaya lalu diberi hadian Tanah Alas Mentaok yang kelak di kemudian hari menjadi Negeri Mataram Islam.

Danang Sutawijaya lalu berganti gelar menjadi Panembahan Senopati, sedang Tombak Kyai Plered menjadi pusaka kebesaran Kraton Mataram. Konon, tuah sakti Pusaka Kyai Plered setara dengan Tombak Baru Klintung milik Ki Ageng Mangir Wanabaya.
Kisah Brajamusti sangat mungkin adalah sebagai salah satu upaya untuk bisa memasukan unsur sejarah dan budaya Jawa ke dalam kisah wayang yang bersumber dari Kitab Mahabharata, yang konon ditulis oleh salah satu awatara (titisan) Dewa Wisnu.
Brajamusti Gugat Gatotkaca Jadi Raja Pringgondani
Dikisahkan, setibanya di Pringgadani Brajamusti lantas meminta Dewi Arimbi untuk segera menyerahkan takhta. Sayangnya, Dewi Arimbi baru saja mengangkat Gagak Sengara atau Gatotkaca menjadi raja. Lanjut bagian 2
Tol Layang Jakarta - Cikampek Cukup 25 - 30 Menit, ke Jakarta Jadi Lebih Cepat?

On January 20, 2020 with No comments

Berapa jarak tempuh Tol Layang Jakarta - Cikampek (JaPek 2) Elevated? Mungkin itulah pertanyaan yang sering muncul saat ini. Dengan kecepatan rata rata saat situasi lalu lintas normal, Tol Layang JaPek 2 ini bisa ditempuh antara 25 menit hingga 35 menit.
Ke jakarta lebih cepat dengan tol layang Jakarta Cikampek
Tol Layang Jakarta - Cikampek adalah ruas tol dengan konstruksi layang yang baru saja diresmikan pada sekitar pertengahan Desember 2019 lalu. Tol Layang Jakarta - Cikampek atau JaPek 2 Elevated ini diperoyeksi untuk bisa mengurai kepadatan di ruas tol tersebut.

Tol JaPek 2 sendiri membentang sepanjang sekitar 36 kilo meter dari Cikunir hingga Karawang Barat dan atau sebaliknya. Tol Layang Jakarta - Cikampek tak memiliki akses keluar - masuk selain di Karawang Barat dan Cikunir.

Sejak pertama diresmikan, Tol JaPek 2 ini sendiri menjadi bahasan hangat masyarakat, khususnya para pengendara yang selama ini sering melintas di Jalan Tol Jakarta - Cikampek, dari sejak Cawang hingga Cikopo Purwakarta, dan atau sebaliknya.

Setelah resmi beroperasi, Tol Layang Jakarta - Cikampek ini pun langsung menjadi ajang uji coba bagi para pengendara yang merasa penasaran.

Tak hanya soal kecepatan dan ketepatan waktu, kontur jalan yang sedikit bergelombang ini juga langsung menjadi bahan perbincangan. Cukup banyak para pengendara yang mengaku merasa mual saat melintas di Tol Layang Jakarta - Cikampek 2.

Lalu benarkah Tol Layang Jakarta - Cikampek JaPek 2 ini memiliki kontur jalan yang bergelombang dan membuat pengendara mual? Tak sepenuhnya salah, juga tak semuanya benar.

Saat melaju di Tol Layang Jakarta - Cikampek, goncangan memang cukup terasa jika dibanding dengan tol layang lain seperti Tol Dalam Kota Jakarta.

Meski demikian, goncangan di Tol Layang JaPek 2 ini juga bergantung pada jenis mobil dan juga kecepatan. Saat diakses menggunakan Honda CRV, guncangan di Tol Layang ini sepertinya biasa saja. Kontur jakan juga masih terasa cukup nyaman.

Untuk soal kecepatan, jika nanti sudah beroperasi penuh (berbayar), maka para pengguna harus mengikuti aturan, yakni maksimal 80 kilo meter per jam. Akan ada tilang elektronik bagi yang melanggar.

Saat ini, mayoritas kendaraan yang melintas di Tol Layang Jakarta - Cikampek ini sendiri nampak masih melebihi batas kecepatan. Terlebih jika situasi lalu lintas atau volume kendaraan sedang terbilang sepi.
Tol Layang Jakarta - Cikampek 2 Elevated
Dengan kecepatan minimal 80 hingga 100 kilo meter per jam, Tol Layang JaPek 2 hanya butuh waktu kurang lebih 30 menit saat diakses. Jika lebih cepat dan kondisi mendukung, hanya butuh waktu sekitar 25 menit saja. baim
Garet Bumi Vocal Itih S, Lirik Lagu Tarling Garet Bumi Gamelan Wayang Kulit

On January 19, 2020 with No comments

Garet Bumi adalah lagu tarling (gitar dan suling) Cirebon Indramayu yang cukup populer. Selain dalam nada dan laras tarling dangdut, lagu Garet Bumi ini juga sering dinyanyikan dengan diiringi gamelan wayang kulit purwa khas Cirebon, Imdramayu dan sebagian Subang. Salah satu sinden wayang kulit yang sering menyanyikan lagu Garet Bumi adalah Hj. Itih, S.
Lagu Wayang Kulit Hj. Itih S Garet Bumi
Garet Bumi Itih S, Lagu Tarling Populer
Seni. Tarling adalah salah satu jenis kesenian khas pesisir utara Jawa Barat yang sangat populer di daerah Cirebon, Indramayu, hingga sebagian Subang dan Karawang.

Selain drama Tarling klasik, kesenian ini juga cukup banyak melahirkan lagu dan para biduan atau sinden yang sangat terkenal. Dari sekian banyak lagu Tarling, Garet Bumi adalah salah satu lagu yang cukup populer.

Sementara beberapa sinden atau biduan yang cukup ternama salah satunya adalah Hj. Itih, S. Selain dikenal sebagai biduan Tarling, Hj. Itih S juga saat ini sangat populer sebagai sinden wayang kulit.

Dalam setiap pentas seni wayang kulit, lagu Tarling berjudul Garet Bumi ini kerap dinyanyikan oleh sinden Hj. Itih S. Lagu Garet Bumi dinyanyikan sebagai selingan, atau kadang karena permintaan dari penonton.

Garet Bumi Lirik Lagu:
Garet bumi tapak jalak kula janji
Garet bumi, tapak jalak kula sumpah
Kula ora pengen dibaleni,
Najan seneng tapi ora sudi
Amit-amit jabang bayi

Eman-eman, bli bakal kula kegoda
Sakit ati, tangise kerasa ning jiwa
Najan sampeyan wis sugih dunya
Najan sampeyan wis sugih harta
Lan uga masih cinta

Ning pribasane...
Putih-putih kembang kecubung
Tapi masih putih, seputih kembang melati
Yen putus tali.. masih bisa disambung
Tapi putus cinta, kerasa lara ning ati
Garet bumi kula jangji, 
Garet bumi kula sumpah...

Eman-eman, bli bakal kula kegoda
Sakit ati, tangise kerasa ning jiwa
Najan sampeyan wis sugih dunya
Najan sampeyan wis sugih harya
Lan uga masih cinta

Ning pribasane...
Putih-putih kembang kecubung
Tapi masih putih, seputih kembang melati
Yen putus tali.. masih bisa disambung
Tapi putus cinta, kerasa lara ning ati
Garet bumi kula jangji,
Garet bumi kula sumpah
HJ. Itih S Lagu Garet Bumi Gamelan Wayang Kulit
Itih S sendiri adalah salah satu biduan asal Majalengka yang cukup senior. Sebelum menjadi sinden kawakan seperti saat ini, Hj. Itih S pernah malang melintang dan kerap berduet dengan banyak seniman Tarling, salah satunya Yoyo Suwaryo. baim