dotgo.id

dotgo.id

ADVERTISEMENT

Search This Blog

Powered by Blogger.
Progres Tol Layang Jakarta - Cikampek Januari 2019, Pembangunan Tol Japek 2 Elevated

On January 19, 2019 with No comments

Pembangunan Jalan Tol Layang Jakarta - Cikampek atau Japek 2 Elevated hingga kini masih terus berlangsung. Memasuki awal tahun 2019, sebagian dari ruas tol layang tersebut sudah memasuki tahap finishing.
Tol layang jakarta cikampek japek 2 akan beroperasi april 2019
Pengerjaan Tol Layang Jakarta - Cikampek di sekitar Bekasi
DOTGO.ID. Trasnportasi. Jalan Tol Layang Jakarta - Cikampek yang membentang sejak Cikunir hingga Karawang Barat dengan panjang kurang lebih sekitar 36 kilo meter, saat ini masih terus diintensifkan pembangunannya.

Di beberapa bagian, pembangunan tol layang tersebut nampak sudah memasuki tahap finishing. Selain tiang pancang, pier head dan girder box yang terpasang, di beberapa ruas juga sudah mulai dicor.

Meski demikian, pengerjaan sebagian ruas tol layang tersebut nampak baru saja memasuki tahap konstruksi yakni pemasangam tiang pancang. Karenanya, banyak yang beranggapan Tol Japek 2 tak akan bisa beroperasi sesuai rencana.

Seperti di ruas Cikarang Utama, pembangunan konstruksi tol layang ini baru memasuki tahap konstruksi, yakni berupa pengerjaan tiang pancang yang lokasinya berada di median (pembatas) tol.

Awalnya, pemerintah sendiri merencanakan Tol Layang Jakarta - Cikampek bisa beroperasi pada April 2019. Namun melihat kondisi di lapangan, bisa saja waktu pengerjaan akan sedikit lebih lama.

Jalan Tol Layang Jakarta - Cikampek sendiri diproyeksikan untuk bisa mengurai kepadatan di Tol Jakarta - Cikampek khususnya di ruas Bekasi - Cikarang, yang memang selama ini sering mengalami kepadatan.
Progres pembangunan Tol Layang Jakarta-Cikampek awal tahun 2019
Rencananya, tol layang ini hanya memiliki akses keluar masuk di Cikunir dan Karawang Barat. Tol Japek 2 memang diprioritaskan untuk kendaraan dari arah Jakarta menuju Karawang dan Cikampek, atau sebaliknya. mch/baim
Riung Panyaungan Rumah Makan Kuliner Sunda Enak dan Murah di Bandung Wisata Kuliner di Jalan Banjaran-Soreang

On January 18, 2019 with No comments

Rumah Makan Riung Panyaungan adalah salah satu kuliner khas Sunda yang sangat populer di Bandung, yang berlokasi di daerah Soreang Banjaran. Selain menyajikan menu yang komplit dan nikmat, harga yang dipatok di RM Riung Panyaungan pun terbilang cukup terjangkau atau murah.
Kuliner khas sunda riung panyaungan bandung tempat wisata kuliner enak dan murah di jalan banjaran soreang bandung
Rumah Makan Sunda Riung Panyaungan Bandung, Banjaran-Soreang
DOTGO.ID. Kuliner. Tempat makan enak di Bandung salah satunya adalah kuliner Riung Panyaungan di Jalan Raya Banjaran - Soreang atau sering disebut juga Bandung Selatan. Rumah Makan Riung Panyaungan sendiri menyajikan menu masakan khas Sunda.

Bagi warga Bandung dan juga pengendara yang melitas terutama para wisatawan yang biasa mengisi waktu liburan di Bandung Selatan seperti di kawasan Ciwidey atau Pangalengan, tentunya sudah tak asing dengan RM Riung Panyaungan.

Selain lokasinya yang strategis karena berada di sisi jalan utama Banjaran - Soreang, menu yang disajikan RM Riung Panyaungan juga terbilang sangat lengkap, dan tentu saja harganya cukup murah terjangkau.

RM Riung Panyaungan menyajikan beragam menu khas Sunda seperti nasi timbel, nasi tutug oncom hingga nasi timbel komplit yang bisa dipadukan dengan ayam, ikan atau bebek plus sayur asem, sambal dan lalapan.

Tersedia juga menu nasi goreng dengan varian berupa nasi goreng ayam, nasi goreng kambing dan nasi goreng sosis bakso. Disediakan pula nasi liwet dan nasi tumpeng dengan bermacam bumbu dan cara penyajian.

Untuk lauk pauk, kuliner Riung Panyaungan menyediakan menu pepes ikan mas dari ukuran kecil, sedang sampai ukuran besar. Selain itu, ada juga menu ikan gurame, ikan nila, ikan lele hingga belut, yang disajikan dengan cara dipepes, digoreng atau cobek (pecak).

Selain jenis ikan darat, RM Riung Panyaungan juga menyediakan menu hidangan laut atau sea food seperti cumi, udang dan ikan jambal, tentunya dengan beragam cara penyajian.

Bagi yang menyukai hidangan mie, Riung Panyaungan menyediakan mie goreng, bihun goreng, kwetiauw goreng hingga mie tek tek kuah. Tersedia juga aneka snack atau gorengan yang disajikan panas-panas.

Untuk minuman, Rumah Makan Riung Panyaungan menyediakan bermacam jenis minuman dari teh panas, es teh manis, aneka jus hingga soft drink dan air mineral.

Bagi para penggemar atau pecandu kopi, di RM Riung Panyaungan Bandung juga sudah disediakan sajian Kopi Magma, yang cukup legendaris dan dikenal luas oleh para penikmat kopi khususnya di wilayah Bandung.

Meski menyajikan menu yang cukup komplit dengan tempat yang cukup bersih dan rapih, namun harga yang dipatok di Rumah Makan Riung Panyaungan sendiri terbilang cukup terjangkau (murah) untuk semua kalangan.

Pada saat-saat tertentu seperti akhir pekan atau musim liburan, RM Riung Panyaungan bakan dipenuhi oleh para pengunjung. Rumah Makan Riung Panyaungan sudah menjadi salah satu ikon wisata kuliner di Bandung selatan.
Kuliner Sunda nikmat dan murah Riung Panyaungan Bandung
Kuliner Rumah Makan Riung Panyaungan sendiri berlokasi di Jalan Raya Banjaran - Soreang KM. 8 Ciherang Banjaran Kabupaten Bandung. RM Riung Panyaungan bisa dihubungi di nomor telepon (022) 594 4545 atau fax (022) 594-4554. mch/baim
Masih Gratis, Inilah Kondisi Tol Trans Jawa Test Drive Trans Jawa dari Gerbang Tol Batang-Pekalongan

On January 17, 2019 with No comments

Tol Trans Jawa yang diresmikan pada Desember 2018 diantaranya adalah ruas Tol Pemalang-Batang (Pematang), Tol Batang-Semarang, Tol Salatiga-Kartasura, dan Tol Winangun Kertosono. Sejak pertama diresmikan hingga awal Januari 2019, beberapa ruas tol tersebut masih gratis.
Tol Trans Jawa Test Drive Gerbang Tol Batang-Pekalongan Jateng
DOTGO.ID. Test Drive. Jalan Tol Trans Jawa adalah ruas jalan yang membelah bagian tengah pulau Jawa dan menghubungkan wilayah paling timur di Banyuwangi, hingga Merak di ujung barat pulau Jawa.

Tol Trans Jawa juga menghubungkan pulau Jawa dengan Sumatera, karena langsung tersambung dengan akses Tol Jakarta-Merak yang merupakan akses menuju pelabuhan Merak-Bakauheuni.

Hingga awal Januari 2019, beberapa ruas tol yang baru saja diresmikan ini masih gratis untuk dilalalui. Seluruh kendaraan dari berbagai jenis (golongan) pun tak perlu membayar saat mengakses salah satu ruas tol tersebut.

Seperti ruas Tol Pemalang - Batang atau yang disebut juga Tol Pematang yang membentang sepanjang 39,2 kilometer. Ruas tol yang menghubungkan wilayah Pemalang, Pekalongan dan Batang ini masih gratis.

Setiap kendaraan yang masuk di Gerbang Tol Pemalang dan Keluar di Gerbang Tol Batang atau sebaliknya, masih gratis. Meski demikian, pengendara harus tetap melakukan transaksi pindai kartu e-tol baik di gerbang masuk maupun keluar.

Diresmikannya ruas Tol Trans Jawa salah satunya ruas Pemalang - Batang ini juga tentunya menarik perhatian banyak pengendara yang ingin mencoba dan merasakan ruas tol baru tersebut.

Masih gratisnya ruas Tol Pemalang - Batang juga tampaknya cukup menarik minat para pengemudi kendaraan truk besar yang selama ini selalu melewati jalan Pantura. Karenanya, kondisi Tol Pemalang - Batang pun ramai oleh kendaraan angkutan berat.

Dengan beroperasinya ruas tol tersebut, jarak tempuh dari wilayah DKI Jakarta dan Jawa Barat ke wilayah Jawa Tengah maupun Jawa Timur menjadi lebih singkat.

Menurut seorang pengendara yang ditemui di Rest Area KM 294 Tegal, keberadaan Tol Trans Jawa tentunya memberi pilihan terutama bagi mereka yang menginginkan efisiensi waktu.

"Kalau mau cepat ya memang harus lewat tol, tapi kan bayar (tarif) tol-nya lumayan mahal. Bagi yang tidak diburu-buru waktu tentu bisa memilih jalan Pantura, karena gratis."

Dari pantauan langsung di lokasi, Tol Trans Jawa ruas Pemalang-Batang sendiri cukup mulus dengan lapisan aspal yang cukup halus. Karena masih relatif sepi, kendaraan pun bisa dipacu dengan kecepatan maksimal.

Tol Trans Jawa sendiri mulai dibangun sejak 2007 di masa Presiden SBY. Pembangunan Tol Trans Jawa sendiri memakan waktu cukup lama karena proses pembebasan lahan. Selain Trans Jawa, Presiden SBY juga menandatangani Perpres pembangunan Tol Trans Sumatera.
Menjajal Jalan Tol Trans Jawa Test Drive Tol Pemalang-Batang
Pembangunan Jalan Tol Trans Jawa sepanjang 616,1 kilo meter yang terdiri dari 9 ruas (seksi) tol ini kemudian dilanjut di era Presiden Jokowi, hingga akhirnya bisa beroperasi seperti saat ini. mch/baim
Candi Arjuna Sejarah Candi Dieng Situs Purbakala Tertua di Tanah Jawa, Wisata Dieng

On January 14, 2019 with No comments

Candi Arjuna adalah salah satu candi Hindu tertua di Jawa yang berlokasi di kawasan dataran tinggi Dieng dan masuk ke dalam wilayah Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Candi Dieng Arjuna ini menempati sebuah lahan yang cukup luas yang didalamnya terdapat beberapa candi, yakni Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa dan Candi Sembadra.
Candi dieng candi arjuna sejarah candi mataram kuno di dataran tinggi dieng
Candi Dieng Komoleks Candi Arjuna Dieng Banjarnegara
DOTGO.ID. Sejarah. Candi Arjuna adalah salah satu situs peninggalan purbakala tertua di tanah Jawa, yang menurut prasasti berangka tahun 731 Saka atau 808 Masehi disebutkan, Candi Arjuna merupakan Candi tertua yang pertamakali dibangun di kawasan dataran tinggi berpenghuni tersebut.

Candi Arjuna yang bentuk bangunannya masih sangat kental bercorak candi Hindu di India ini dibangun pada sekitar abad 8 Masehi, atau abad 7 Saka di zaman Dinasti Sanjaya dari Mataram Kuno. Candi Arjuna adalah tempat penyembahan untuk Dewa Siwa (Ciwa).

Berbeda dengan candi-candi lain yang berada di kompleks pecanden ini, bentuk Candi Arjuna memang masih sangat serupa dengan Candi Hindu yang ada di India. Sementara beberapa candi lainnya yakni Candi Srikandi, Candi Puntadewa dan Candi Sembadra, bentuknya sudah menyerupai candi Hindu khas Jawa Tengah.

Meski demikian, secara garis besar seluruh candi yang ada di kompleks Candi Arjuna memiliki ornamen yang serupa. Berbeda dengan ketiga candi yang lain, Candi Arjuna memiliki candi sarana atau perwara, yaitu Candi Semar yang letaknya berhadap-hadapan.

Di masa lalu, Candi Semar sebagai perwara atau candi sarana ini biasa dimanfaatkan sebagai tempat berkumpulnya para jemaat sebelum melakukan persembahan atau bersembahyang (Syiwa) di candi utama yaitu Candi Arjuna.

Sementara Candi Srikandi yang letaknya berada di samping kiri Candi Arjuna biasa digunakan untuk melakukan persembahan atau bersembahyang Trimurti, yakni tiga kesatuan dewa utama Hindu (Brahma, Wisnu dan Syiwa).

Di kompleks Candi Arjuna yang meliputi Candi Semar, Candi Srikandi, Puntadewa dan Candi Sembadra, terlihat jelas adanya ornamen yang terdapat pada pegangan tangga menuju pintu masuk candi, atau yang dikenal dengan sebutan penil.

Di bagian atas pintu masuk candi, terdapat wajah raksasa tanpa rahang bawah yang biasa disebut (batara) Kala. Selain itu, terdapat juga bentuk raksasa yang menyerupai binatang laut yang disebut Makara, yang diyakini mampu mengusir setan (jahat).

Terdapat juga saluran air untuk mengalirkan air dari dalam candi ke salah satu sisi candi yang biasa disebut Jalatmara. Sementara di bagian atas (puncak) candi, terdapat bentuk ornamen yang diyakini sebagai tempat masuknya para dewa, yang disebut Istadewa.

Meski demikian, para wisatawan yang mengunjungi Candi Arjuna atau juga candi-candi lainnya tak akan menjumpai arca atau patung yang biasa dijumpai di dalam candi. Sebagian besar arca-arca tersebut disimpan di Museum Kailasa, untuk menjaganya dari ulah tangan-tangan jahat.

Berdasar pada prasasti berangka tahun 731 Saka atau sekitar abad 808 Masehi yang ditemukan di sekitar kompleks Candi Arjuna, diperkirakan bahwa pembangunan Candi Arjuna yang diyakini sebagai candi pertama dimulai pada abad 7 Caka atau awal abad 8 Masehi.

Sejarah Candi Arjuna Dieng sendiri bermula pada awal abad 18, saat seorang tentara Belanda bernama Theodorf van Elf melihat adanya candi yang sebagian besar bangunannya tergenang air. Saat itu, bangunan candi dikelilingi genangan air seperti danau.

Penemuan itu kemudian menjadi bahan awal untuk meneliti lebih jauh terkait kondisi Candi Arjuna tersebut. 40 tahun kemudian, seorang berkebangsaan Inggris bernama HC. Cornelius melakukan uapaya pertama untuk menyelamatkan Candi Arjuna Dieng.

Beberapa catatan menyebutkan, upaya HC. Cornelius ini kemudian dilanjutkan oleh seorang berkebangsaan Belanda di era kolonial bermama J van Kirnbergens, hingga akhirnya Candi Arjuna kembali dikenal luas oleh masyarakat.

Selain Candi Arjuna, di kompleks pecandian Dieng ini juga ada beberapa candi lain seperti Candi Setyaki yang jaraknya hanya sekitar 200 meter dari Candi Arjuna. Candi Setyaki yang juga sebagai tempat pemujaan Syiwa ini diyakini berusia sama dengan Candi Arjuna.

Selain itu, ada juga Candi Gatotkaca yang lokasinya kini berada di sebelah area parkir kendaraan. Sementara Candi Bima (Werkudara) menjadi candi yang lokasinya berada di bagian paling ujung kompleka Candi Dieng.

Sebagian besar candi yang ada di Dieng sendiri memang dinamai dengan nama-nama tokoh pewayangan, yang bersumber dari wiracarita Mahabharata. Selain candi-candi tersebut, sebenarnya masih cukup banyak candi lain namun hanya tersisa reruntuhan atau pondasinya saja.

Untuk bisa memasuki Candi Arjuna dan candi-candi lain di Dieng, pengunjung hanya perlu membayar tarif yang cukup murah, yakni Rp 15.000 (Januari 2019) untuk wisatawan lokal. Sementara untuk wisatawan mancanegara, tarif yang berlaku adalah dua kali lipatnya.

Selain Candi Arjuna dan candi-candi Dieng lainnya, pengunjung juga bisa mengakses Museum Kailasa tempat menyimpan arca, Kawah Sikidang, Sendang Maerokoco atau juga Sendang Sedayu, yang lokasinya relatif berdekatan.

Candi Arjuna sendiri biasanya dijadikan sebagai tempat pelaksaan Hari Galungan umat Hindu, kadang juga dijadikan sebagai tempat untuk meruwat anak gimbal. Sebelum diruwat (dipotong rambut) anak gimbal biasanya akan diarak berkeliling kampung.

Saat akhir pekan, pengunjung di kompleks Candi Arjuna Dieng biasanya akan dihibur oleh para seniman yang berdandan layaknya tokoh pewayangan. Selain biasa memperagakan sendratari, para seniman ini juga bisa diajak untuk foto bersama atau juga selfie.
Candi Arjuna situs purbakala di dataran tinggi Dieng Jawa Tengah
Selain sebagai kawasan wisata, dataran tinggi Dieng juga dikenal sebagai sentra hortikultura atau penghasil sayuran terbesar di Jawa. Bentang alam Dieng juga terbilang cukup menawan dan akan membuat betah para wisatawan. mch/baim
Jaipong Sejarah Seni Jaipongan Tradisi dan Budaya Seni Masyarakat Sunda di Jawa Barat

On January 09, 2019 with No comments

Jaipongan adalah kesenian tradisional yang cukup populer di Jawa Barat, terutama di beberapa daerah seperti Bandung, Karawang, Subang, Purwakarta hingga sebagian wilayah Banten. Jaipong adalah seni tradisi yang memadukan unsur-unsur gerakan pencak silat dengan iringan kendang pencak dan juga ketuk tilu.
Sejarah seni tari jaipong bajidoran karawang yang sangat populer di jawa barat
Jaipongan kesenian tradisional masyarakat Sunda Jawa Barat
DOTGO.ID. Seni. Tari Jaipong adalah kesenian tarian pergaulan masyarakat Jawa Barat di sebagian Tatar Sunda yang mulai populer sejak awal 1970-an. Jaipong atau jaipongan sangat populer di beberapa daerah di Jabar terutama Karawang, Bandung, Subang dan Purwakarta.

Kesenian jaipong sendiri adalah seni tradisi yang memadukan unsur seni yang sudah ada sebelumnya, yaitu pencak silat, ketuk tilu, topeng banjet hingga seni wayang golek (wayang cepak menurut sebagian kalangan).

Meski banyak kalangan menganggap tari jaipong berasal dari Bandung karena dipopulerkan oleh seorang seniman besar asal kota kembang Bandung bernana Gugum Gumbira, namun sebagian juga yakin bahwa seni jaipong berasal dari Karawang.

Keyakinan tersebut muncul karena sebelumnya masyarakat Karawang dan sekitarnya sudah mengenal seni jaipong yang dipelopori oleh H. Suwanda (pendiri grup jaipong Suwanda Grup), yang sangat populer.

H. Suwanda sendiri merupakan salah satu penabuh kendang yang sangat populer. H. Suwanda bersama seni jaipong Suwanda Grup sangat melegenda dan dikenal luas di sebagian besar wilayah Jawa Barat.

Jaipong Suwanda Grup sangat fenomenal dan dikenal luas hingga ke seantero Jawa Barat di era 1980-an, yang mana saat itu jaipongan masih menjadi seni hiburan favorit masyarakat Sunda, di sebagian wilayah Jawa Barat.

Sejarah jaipong atau yang dikenal juga Goyang Karawang ini sendiri diyakini berawal dari hasil kreatifitas H. Suanda yang memadukan beberapa unsur kesenian seperti pencak silat, kendang ketuk tilu hingga topeng banjet.

Di pertengahan 1970-an, H. Suwanda disebut-sebut sudah merekam seni jaipongan ke dalam pita kaset meski tanpa label. Sejak itu, kesenian ini mulai berkembang pesat dan dikenal luas oleh masyarakat di seputaran Karawang.

Seiring populritas jaipongan atau bajidoran yang semakin dikenal, seorang seniman kemudian membawa seni jaipong ke Bandung untuk lebih dikembangkan. Sejak itulah rekaman (kaset pita) jaipong berlabel mulai muncul.

Jaipongan pun mulai dikenal luas di Jawa Barat hingga menjadi salah satu hiburan rakyat yang paling diminati kala itu. Seni tari (ibing) Jaipongan yang memadukan beberapa unsur seni Sunda klasik ini pun sempat menjadi ladang emas dalam industri rekaman hingga awal 1990-an.

Meski memadukan unsur-unsur kesenian tersebut, namun seni tari jaipong memberi warna tersendiri dalam khazanah budaya masyarakat Sunda. Jaipong memiliki ciri tersendiri baik dalam segi tarian maupun aransemen musiknya.

Gamelan pengiring seni jaipong sendiri terbilang cukup sederhana yang terdiri dari seperangkat kendang tepak, goong (gong), ketuk (kemong), kecrek dan rebab yang bisa juga dipadukan dengan terompet karena memiliki nada yang hampir sama.

Selain alat musik tersebut, seni jaipong juga menghadirkan juru kawih atau sinden yang akan menyanyikan lagu-lagu tradisional Sunda, yang akan dilantunkan menyesuaikan irama (gamelam) musik.

Ada juga beberapa orang pria yang bertugas sebagai juru senggak (menginterupsi nyanyian juru kawih) yang biasanya dilakukan oleh para nayaga, baik itu penabuh kendang, ketuk, goong atau juga kecrek.

Selain H. Suwanda dan grup jaipongnya, kesenian ini juga melahirkan beberapa juru kawih atau sinden handal Karawang, diantaranya adalah Cicih Cangkurileung dan Mamah Emi Nurhayati.

Bersama beberapa seni tradisi Sunda lainnya seperti degung, kacapi suling atau ketuk tilu yang populer di wilayah tengah dan selatan Jabar, jaipongan juga sangat populer di daerah pesisir utara seperti Karawang, Subang, Indramayu hingga Cirebon, yang mana di daerah pesisir ini juga dikenal adanya kesenian kliningan, tarling, ronggeng, tari doger, tayub hingga kesenian sintren.

Karenanya, cukup banyak grup seni jaipong di wilayah Karawang, Bandung dan Subang, yang hingga kini masih tetap eksis. Jaipongan atau bajidoran ini oleh sebagian kalangan sering juga disebut sebagai Goyang Karawang.

Keyakinan seni jaipongan berasal dari Karawang ini diungkap oleh pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Karawang seperti ditulis situs Wikipedia yang menyebutkan, Jaipong Karawang berasal dari seni Tepak (kendang) Topeng.

Meski seni jaipong mulai dikenal luas ke seantero Jawa Barat setelah dikemas dalam bentuk rekaman kaset pita berlabel oleh seniman Bandung Gugum Gumbira, namun konon penabuh gendang dan gamelan atau para nayaganya tetap berasal dari Karawang.

Berdasarkan bukti-bukti yang ada, pihak Disbudpar Karawang berniat untuk kembali menggali seni jaipongan secara lebih mendalam, agar mendapaf pengakuan sebagai seni tradisional Sunda khas Karawang.

Terlepas dari itu semua, tari Jaipongan sendiri adalah salah satu seni tradisi masyarakat Sunda paling populer dan dikenal luas oleh sebagian besar masyarakat Jawa Barat.
Grup Jaipong Galura Putri Binangkit Pagaden Barat Subang
Saat ini, kesenian jaipongan sendiri kerap dikolaborasikan dengan kesenian modern dengan memadukan alat musik etnik Sunda berupa kendang, rebab, terompet dan gong, dengan alat musik modern seperti organ, piano, gitar dan drum. mch/baim