dotgo.id

dotgo.id

ADVERTISEMENT

Search This Blog

Powered by Blogger.
Hotel Regina Pemalang Tempat Menginap Aman dan Nyaman di Pusat Kota Pemalang

On April 17, 2019 with No comments

Hotel Regina Pemalang adalah salah satu hotel yang cukup rekomended saat berada di Kota Pemalang. Selain lokasinya yang cukup strategis karena berada di ruas jalan utama Kota Pemalang, Regina Hotel juga cukup presentatif karena menyediakan bermacam fasilitas untuk para tamu.
Regina hotel Pemalang hotel bagus dengan suasana nyaman di kota pemalang Jawa tengah
Hotel Regina Pemalang, tenpat menginap di Kota Pemalang
DOTGO.ID. Pemalang adalah sebuah daerah di Jawa Tengah yang berlokasi di sebelah timur Tegal, dan berada di sebelah barat Pekalongan. Letak geografis kota Pemalang juga sangat strategis karena menjadi akses menuju Purbalingga via Bantarbolang - Randudongkal.

Sebagai salah satu kota yang kerap dijadikan persinggahan, di kota Pemalang sendiri cukup banyak tempat kuliner, one point stop. Salah satu tempat yang paling sering dikunjungi adalah Alun-alun Kota Pemalang.

Di kota yang populer dengan kuliner Nasi Grombang (Haji Warso) ini juga terdapat beberapa hotel yang cukup presentatif dan rekomended, salah satunya yaitu Hotel Regina.

Regina Hotel berlokasi di sebelah timur pusat kota Pemalang, tak jauh dari Gerbang Tol Pemalang - Batang (Tol Pematang) di Jalan Petarukan, yang juga menjadi akses utama menuju Pekalongan.

Hotel Regina adalah hotel bintang tiga yang menyediakan bermacam fasilitas. Tak hanya suasananya yang nyaman, Regina Hotel Pemalang juga menyediakan covention hall, bagi para tamu dalam jumlah tertentu yang ingin melakukan bermacam kegiatan.

Fasilitas lain dari Regina Hotel ini adalah tersedianya kolam renang yang kondisinya cukup baik, restoran dan kafe, dan juga yang paling utama adalah kamar untuk para tamu dari yang standar hingga deluxe.

Tersedia juga bermacam kuliner khas mulai dari masakan Jawa masakan Indoneisa, Asia, hingga kuliner khas gaya Eropa. Selain bisa mendatangi restoran atau kafe, pengunjung juga bisa memesan langsung via buku menu yang sudah tersedia di kamar masing-masing.

Regina Hotel Pemalang juga menyediakan area parkir yang cukup luas hingga para pengunjung pun tak perlu khawatir saat meninggalkan kendaraan, Terlebih, ada petugas yang selalu berjaga selama 1x24 jam.

Lokasi Hotel Regina Pemalang sendiri cukup mudah dijangkau karena berada di jalan utama Pemalang - Pekalongan. Regina Hotel hanya berjarak beberapa puluh meter ke arah timur setelah Gerbang Tol Pemalang - Batang.
Regina Hotel Pemalang di Jalan Raya Petarukan KM 6 Pemalang
Hotel Regina Pemalang yang letaknya berada di sisi selatan Jalan Pantura ini beralamat di Jalan Raya Petarukan Nomor 10, KM 6 Kota Pemalang. Untuk reservasi wisatawan bisa menghubungi nomor telepon 0284 - 322111. mch/baim
Bendung Jengkol Pintu Air Bendungan Kali Cijengkol di Sukamandi Ciasem Subang

On April 16, 2019 with No comments

Bendung Jengkol adalah sebuan pintu air yang berlokasi di Desa Sukamandi Jaya Kecamatan Ciasem Subang Jawa Barat. Pintu air Cijengkol membendung aliran Sungai Cijengkol untuk kemudian dibagi guna kepentingan pertanian, dan juga sebagai langkah antisipasi untuk meminimalisir dampak banjir di wilayan tersebut.
Bendung jengkol di kali cijengkol ciasem sejarah bendungan di sukamandi ciasem
Bendungan Cijengkol Sukamandi Ciasem Subang Jawa Barat
DOTGO.ID. Sejarah. Ciasem adalah sebuah daerah kecamatan di Subang yang masuk ke dalam wilayah pesisir utara (Pantura) Jawa Barat. Kecamatan Ciasem adalah salah satu daerah kecamatan terluas dengan jumlah penduduk terbesar di Subang.

Selain dikenal karena keberadaan Kali Ciasem, yang merupakan salah satu sungai utama di wilayah Subang, Ciasem juga dikenal memiliki pintu air atau bendungan, yakni Bendung Jengkol yang berlokasi di Sukamandi Jaya.

Bendung Jengkol sendiri membendung aliran Kali Cijengkol yang kemudian airnya didistribusikan untuk kepentingan irigasi pertanian. Kecamatan Ciasem sendiri memang dikenal memiliki areal pesawahan yang membentang cukup luas.

Kecamatan Ciasem berbatasan dengan Kecamatan Blanakan di bagian utara, Kecamatan Patokbeusi di bagian barat, Kecamatan Sukasari di bagian timur, dan Kecamatan Cikaum di sebelah selatan.

Luas wilayah Kecamatan Ciasem yang mencapai 117.19 kilo meter persegi ini dihuni oleh sekitar 101.930 jiwa (sensus 2010), yang tersebar di sembilan desa.
  • Desa Ciasem Hilir
  • Desa Ciasem Baru
  • Desa Ciasem Tengah
  • Desa Ciasem Girang
  • Desa Sukamadi Jaya
  • Desa Pinangsari
  • Desa Dukuh
  • Desa Jatibaru
  • Desa Sukahaji
Sebagian besar masyarakat Ciasem di sembilan desa tersebut berprofesi sebagai petani, karena memang mayoritas wilayah Ciasem dikelilingi areal pesawahan yang membentang cukup.

Karenanya, sarana irigasi atau pengairan sangatlah penting. Terlebih, sebagian besar areal pesawahan di wilayah Ciasem adalah lahan teknis, yang tergolong dalam sawah golongan atau kualitas terbaik.

Menurut banyak sejarawan, sebagian besar areal pesawahan di wilayah Pantura termasuk Ciasem ini mulai berkembang saat Ekspedisi Mataram Islam ke Batavia (Perang Jawa I), antara tahun 1628 hingga 1629.

Sebagian prajurit Mataram yang enggan kembali setelah berperang melawan Belanda ini lantas membuka lahan pertanian. Mereka membabat hutan dan rawa-rawa untuk membuka pesawahan dan saluran.

Tak hanya itu, sebagian dari prajurit Mataram ini juga menikah dengan penduduk lokal, hingga melahirkan budaya Jawa - Sunda. Ekspedisi Mataram diyakini memiliki peran penting, sebagai perintis awal dibukanya areal pesawahan di wilayah Ciasem yang cukup luas ini.

Untuk memenuhi kebutuhan irigasi, pemerintah sendiri sudah membuat pintu air atau bendungan yang berlokasi di Desa Sukamandi Jaya, tepatnya berada di Jalan Raya Sukamandi - Purwadadi. Bendungan tersebut adalah Bendung Jengkol.

Bendung Jengkol sendiri membendung aliran sungai atau Kali Cijengkol, untuk kemudian dibagi dan didistribusikan sesuai kebutuhan. Jika debit air sedang tinggi, air di Bendung Cijengkol ini sebagian akan dialirkan ke Kali Ciasem.

Di sekitar Bendung Jengkol yang dikelola oleh Perum Jasa Tirta II Unit Usaha Wilayah III ini juga terdapat tempat pembenihan dan penelitian perikanan. Di tempat tersebut, banyak dikembangan jenis ikan terutama patin, gurame, ikan mas dan lele.

Bendungan Cijengkol:
  • Dibangun: Tahun 1973
  • Jenis Bandung: Bendung Gerak
  • - Desa: Sukamandi Jaya
  • - Kecamatan: Ciasem
  • - Kabupaten: Subang, Jawa Barat
  • Luas total: 3.486 Hektar
  • Luas Mercu: 7 Meter
  • Elevasi MA. Normal: +12. 25
  • Elevasi MA. Banjir: +13. 25
  • Elevasi Mercu: +12. 25
  • Elevasi Dek Zerk: +15. 25
  • Debit Air Maksimal: 500.00 M3/detik
  • Sumber Air: Kali Cijengkol
Selain itu, di Bendung Jengkol ini juga terdapat sebuah jembatan yang cukup vital, karena menjadi akses utama Jalan Sukamandi - Purwadadi yang langsung menuju wilayah Kalijati, Subang dan sekitarnya.
Bendung Jengkol Pintu Air Kali Cijengkol Bendungan di Ciasem
Pada saat-saat tertentu, Bendung Jengkol ini cukup ramai karena kerap dimanfaatkan warga sekitar untuk bersantai. Tak sedikit pula para pengendara yang sengaja menepi, termasuk para pemancing yang sering mencari ikan di Bendungan Cijengkol ini. mch/baim
Wisata Sejarah Subang Taman Dirgantara Lanud Suryadarma Kalijati Subang Jawa Barat

On April 16, 2019 with No comments

Wisata sejarah di Subang salah satunya adalah Lanud (landasan udara) Suryadarma Kalijati, yang merupakan sebagai basis atau pangkalan TNI AU. Di Lanud Kalijati tepatnya di Taman Dirgantara wisatawan bisa melihat langsung deretan pesawat bersejarah yang salah satunya pernah terlibat dalam Perang Dunia II.
Taman dirgantara lanud kalijati subang monumen pesawat bersejarah peninggalan perang
Lockheed L-21 pesawat bersejarah peninggalan Perang Dunia II
DOTGO.ID. Sejarah. Kalijati adalah sebuah daerah kecamatan di wilayah Subang yang cukup populer karena memiliki nilai historis tinggi sejak era pra kemerdekaan. Lanud Kalijati adalah salah satu pangkalan udara pertama yang ada di Indonesia.

Lanud Kalijati dikenal karena Perjanjian Kalijati, yakni perjanjian antara pemerintah Jepang dan Belanda di tahun 1942. Jepang yang tergabung dalam Negara Poros (Jerman - Italia - Jepang) berambisi untuk menguasai Asia. Jepang lalu menyerbu Hindia - Belanda, termasuk Jawa.

Tak berdaya menghadapi serbuan kilat Jepang, pada tanggal 8 Maret 1942, Belanda menyerahkan kekuasaanya kepada Jepang, yang dikenal dengan Perjanjian Kalijati. Hindia Belanda (nama Indonesia sebelum merdeka) pun akhirnya jatuh ke tangan Jepang.

Perjanjian Kalijati antara Jepang dan Belanda tersebut berlangsung di sebuah rumah yang berada di dalam kompleks Lanud Kalijati. Rumah tersebut kini disebut Rumah Sejarah Kalijati.

Selain Rumah Sejarah, di Lanud Kalijati juga saat ini terdapat Taman Dirgantara, yakni sebuah taman yang dilengkapi dengan ornamen berupa pesawat udara asli, yang satu diantaranya pernah digunakan dalam Perang Dunia II.

Taman Dirgantara Lanud Kalijati sendiri tentunya menjadi sebuah taman pendidikan sarat sejarah, yang bisa memberi edukasi terutama pada para pelajar dan anak sekolah usia dini.

Di Taman Dirgantara Lanud Suryadarma Kalijati Subang Jawa Barat, terdapat tiga pesawat yang masing-masing adalah pesawat Cessna - 180, Locheed L - 21 dan Helikopter Bell 47 G/Bell Soloy.

Cessna -180
Sejarah Cessna 180 yang ada di Lanud Kalijati bermula saat pemerintah RI membeli 8 unit Cessna 180 pada tahun 1955, lalu ditempatkan di Semplak, Bogor. Pada tahun 1956, Cessna 180 ini ikut terlibat dalam penumpasan pemberontakan DI TII (Karto Suwiryo).

Pada tahun 1958, Cessna 180 tersebut melakukan tugas pengintaian dalam operasi gabungan untuk menumpas gerakan Pemberontakan Revolusioner Republik Indoneisa atau Pembeeontakan Rakyat Semesta. 

Pada 1980, pesawat Cessna180 ini disumbangkan ke Museum Amerta Dirgantara Mandala, Lanud Suryadarma Kalijati Subang Jawa Barat.
  • Produksi: Cessna Aircraft Company USA/1952
  • Tempat duduk: 4 seat
  • Panjang: 25 feet 9 inchi (7,85 meter)
  • Panjang sayap: 35 feet 10 inchi (10,92 meter)
  • Tinggi: 7 feet 9 inchi (2,36 meter)
  • Luas sayap: 16,2 meter
  • Berat kosong: 711 kilo gram (kg)
  • Berat maksimum: 1,270 kilo gram
  • Kekuatan mesin: 1 x Continental 0-470-U 240 HP (170 KW)
  • Baling-baling: 2 daun kecepatan tetap, panjang 2,08 meter
  • Kecepatan maksimum: 274 Kilo meter per jam
  • Daya jellajah: 263 Kilometer
  • Kecepatan saat stall: 89 kilo meter per jam
Lockheed L-21
Lockheed L-21 pertama diproduksi pada 1937 di Kanada. Belanda kemudian memesan Lockheed L-21 pada 1938 untuk dilibatkan dalam Perang Dunia II. 22 Maret 1944, Lockheed L-21 yang saat ini ada di Lanud Kalijati tersebut dikirim ke Australia, lalu ke Merauke untuk memperkuat Skadron 120 RAAT.

Pada Februari 1946, 5 buah pesawat Lockheed L-21 dibawa ke Skadron Pangkalan Udara Detasemen Tjililitan (kini Cililitan). Setelah Indonesia merdeka, pesawat Lockheed ini diserahkan ke pihak republik pada tahun 1950. 

TNI AU kemudian menggunakan Lockheed sebagai pesawat angkut dan latih. Saaat ini, salah satu dari pesawat Lockheed L-21 tersebut kini ada di Lanud Kalijati.
  • Jenis pesawat: pesawat transportasi
  • Pabrikan: Lockheed Kanada
  • Motor engine/mesin: 2 x 450 horse power (tenaga kuda)
  • Panjang sayap: 1670 feet 10 inchi
  • Panjang pesawat: 12.80 meter
  • Jarak jelajah: 1226 mil
  • Berat: 3923 pound
  • Tempat duduk: 8 seat/kursi
Helikopter Bell 47 G/Bell Soloy
Helikopter di Lanud Kalijati ini adalah salah satu pesawat heli yang diproduksi oleh Bell Helicopter Textron USA, pada tahun 1948. Sekitar tahun 1977, TNI AD mendapat 12 helikopter Bell 47 G dari AD Australia. Pada tahun 1978, pesawat helikopter ini kemudian dioperasikan oleh TNI AU.

Untuk meningkatkan kemampuan Bell 47 G, helikopter ini kemudian dimodifikasi pada tahun 1983, dengan mengadopsi engine piston CAE 250 C - 20 B. Helikopter Bell 47 G ini lalu dinamai Helikopter Bell Soloy. Pesawat ini kemudian dimuseumkan pada tahun 2016, dan salah satunya berada di Lanud Kalijati.
  • Pabrikan: Bell Helicopter Textron USA
  • Panjang pesawat: 10.52 meter
  • Berat maksimum pesawat: 2950 Lbs
  • Ketinggian maksimum: 16.000 ft (kaki)
  • Kecepatan maksimum: 90 knot
  • Kemampua terbang: 2.30 jam
  • Tempat duduk: 3 orang
  • Fungsi: pesawat angkut ringan, SAR, evakuasi dan latihan
Bagi masyarakat Subang, Taman Dirgantara Lanud Suryadarma Kalijati ini tentunya bisa dijadikan sebagai tempat wisata sejarah. Selain bisa memberi edukasi, Taman Dirgantara juga adalah saksi sejarah perjuangan TNI dan para pahlawan Indonesia dalam upaya meraih kemerdekaan.
Taman Dirgantara Lanud Kalijati, monumen pesawat bersejarah
Lanud Kalijati sendiri berlokasi tak jauh dari Pasar Kalijati, yang merupakan pasar utama dan terbesar di wilayah Kalijati. Pintu masuk Lanud Suryadarma berada di sebelah utara Pasar Kalijati. mch/baim
Tempat Angker? Hotel Subang Plaza Sejarah Bangunan Kuno Era Kolonial di Subang Jawa Barat

On April 15, 2019 with No comments

Tempat angker di Subang? Hotel Subang Plaza adalah sebuah urban legend yang sudah cukup populer bagi warga Subang dan sekitarnya. Hotel Subang Plaza adalah salah satu bangunan bersejarah dari era kolonial, yang oleh sebagian kalangan diyakini memiliki sisi mistis yang cukup kental.
Tempat angker di subang hotel subang plaza, bangunan kuno peninggalan zaman belanda dan inggris
Hotel Subang Plaza bangunan bersejarah dari era kolonial di Subang
DOTGO.ID. Sejarah. Hotel Subang Plaza adalah salah satu bangunan kuno yang berasal dari era kolonial, dan berlokasi di pusat kota Subang, tepatnya di seberang Rumah Sakit PTPN, di Jalan Letjen Soeorapto Kota Subang, Jawa Barat.

Hotel Subang Plaza sendiri awalnya adalah sebuah gedung administrasi dari perusahaan perkebunan Inggeris Pamanoekan en Tjiasem Landen atau P & T Land, yang memiliki aset perkebunan sangat luas di wilayah Subang.

Kala itu, Hotel Subang Plaza digunakan oleh P & T Land, sebagai tempat untuk mengumpulkan uang hasil perkebunan. Wilayah Subang sendiri memang didominasi oleh areal perkebunan dan pesawahan yang menbentang sangat luas.

Pada sekitar awal tahun 2000-an, bangunan Subang Plaza ini berganti kepemilikan dan berubah fungsi menjadi sebuah hotel, yakni Hotel Subang Plaza. Hotel Subang Plaza cukup representatif dan dikenal hingga akhirnya tutup pada sekitar tahun 2005.

Tak ada yang tahu pasti mengapa Hotel Subang Plaza berhenti beroperasi. Dan karena seolah tak bertuan, bangunan Subang Plaza pun kini nampak kumuh menyeramkan. Sebagian masyarakat bahkan meyakini bahwa bangunan kuno ini sangat angker.

Tak ada yang tahu pasti pula kapan bangunan tersebut berdiri. Namun jika melihat fungsi awal dari bangunan ini, yakni sebagai kantor administrasi perkebunan Inggris, diduga kuat Subang Plaza sudah berdiri sangat lama.

Jika gedung ini dibangun di era pendudukan Inggeris, maka diperkirakan Hotel Subang Plaza berdiri pada awal abad 19, karena Inggris (Britania Raya) menyerbu Jawa antara Agustus hingga September 1811.

Belanda yang saat itu berusaha sekuat tenaga untuk bisa mempertahankan Jawa pun akhirnya dikalahkan. Saat itu, Belanda sendiri adalah koalisi dari Kekaisaran Perancis di bawah pimpinan Napoleon Bonnaparte, yang memang sedang berperang dengan Inggris atau Britania Raya.

Meski Belanda sudah membangun Jalan Raya Pos yang membentang dari Banten hingga Banyuwangi, namun Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels tak mampu menahan serbuan kilat tentara Britania Raya Inggris ke Jawa.

Setelah Belanda takluk, Jawa pun akhirnya jatuh ke tangan Inggris, lalu diangkatlah Letnan Gubernur Jawa Thomas Stamford Raffles untuk memimpin pendudukan Inggris di tanah Jawa. Meski demikian pendudukan Inggris di Jawa hanya berlangsung 4 tahun, yakni dari tahun 1811 hingga 1816.

Pendudukan Inggris di Jawa inilah yang membuka pintu masuk bagi para partikelir swasta untuk berekspansi, salah satunya (leluhur) Peter Willem Hofland yang membuka perkebunan di Subang, Jawa Barat. Peninggalan Peter Willem Hofland di Subang kini dikenal dengan Pamanoekan en Tjiasem Landen (P & T Land).

Bahkan setelah Inggris kembali menyerahkan Jawa ke tangan Belanda, sesuai isi Kongres Wina 1815, hegemoni para partikelir swasta yang membuka perkebunan di Jawa, khususnya di Subang tetap terasa.

Bertahun-tahun kemudian, pihak kerajaan Belanda yang kembali berkuasa secara penuh di Jawa, memberi 'keleluasaan' pada Pamanoekan en Tjiasem Landen, untuk tetap menguasai dan mengelola perkebunan yang sangat luas di Subang tersebut.

Peter Willem Hofland sang pemilik Pamanoekan en Tjiasem Landen sendiri lahir di Madras Spanyol pada 7 September 1802, dan meninggal pada tanggal 4 Februari 1872. PW Hofland dimakamkan di Pemakaman Dungus Wiru Subang.

Peninggalan Peter Willem Hofland dengan Pamanoekan en Tjiasem Landen-nya hingga kini masih bisa dilihat, diantaranya adalah Gedung Wisma Karya dan Hotel Subang Plaza. Pada zamannya, kedua gedung tersebut adalah bangunan yang sangat penting.

Subang Plaza contohnya. Menurut beberapa literarur, bangunan tersebut adalah kantor administrasi dari perusahaan perkebunan Inggris yang kelak menjadi cikal bakal Pamanoekan en Tjiasem Landen. Subang Plaza adalah tempat penyimpanan uang hasil perkebunan di Subang.

Menurut cerita yang berkembang, konon ada terowongan bawah tanah yang menghubungkan Hotel Subang Plaza dengan Gedung Wisma Karya dan juga beberapa bangunan lainnya, salah satunya rumah dinas Wakil Bupati Subang saat ini.

Namun berdasar hasil penelusuran, rumor tersebut hanya isapan jempol, karena yang ada hanyalah ruang bawah tanah untuk menyimpan atau mengamankan uang hasil perkebunan, yang luasnya hampir meliputi seluruh wilayah Subang.

Setelah Indonesia merdeka, bangunan Subang Plaza ini menjadi milik pemerintah RI sepenuhnya. Sekitar awal tahun 2000-an, bangunan bersejarah tersebut dibeli oleh H. Harun, untuk kemudian difungsikan menjadi Hotel Subang Plaza.

Nilai sejarah dan arsitektur bangunan yang khas ini membuat Hotel Subang Plaza menjadi salah satu hotel yang paling populer dan cukup presentatif di Subang. Sayangnya, Hotel Subang Plaza berehenti beroperasi pada tahun 2005.

Tak ada yang tahu pasti mengapa Hotel Subang Plaza berhenti beroperasi. Namun ada rumor yang menyebutkan bahwa bangunan tersebut angker. Sejak berhenti beroperasi pada tahun 2005, praktis Hotel Subang Plaza pun menjadi bangunan bersejarah yang terlantar.

Hotel Subang Plaza yang oleh sebagian masyarakat diyakini sangat angker tersebut kini menjadi aset Rumah Sakit PTPN XII. Halaman Hotel Subang Plaza kini difungsikan sebagai area parkir (cadangan) RS PTPN Subang.

Benarkah Hotel Subang Plaza angker? Tak ada yang tahu pasti, namun Hotel Subang Plaza angker sudah kadung menjadi urban legend populer di kalangan masyarakat Subang dan sekitarnya. Dari luar, Hotel Subang Plaza sendiri memang nampak cukup menyeramkan dan memancarkan aura horor nan mistis.

Konon, dari Hotel Subang Plaza cukup sering terdengar suara jeritan dan tangisan saat tengah malam. Apakah Hotel Subang Plaza pernah digunakan sebagai tempat tahanan atau penyiksaan tawanan di era penjajahan? Tak ada yang tahu pasti.

Saat dimasuki, bagian dalam Hotel Subang Plaza sendiri nampak berantakan, karena banyak puing berserakan juga kotoran dan sisa makanan hewan sejenis kelelawar. Dalam sebuah tayangan video, nampak pula ceceran gordin (tirai jendela) dan juga bantal yang terlihat menyeramkan.
Sejarah Hotel Subang Plaza, bangunan bersejarah yang konon angker?
Sepintas, bagian dalam Hotel Subang Plaza ini memang sangat pas untuk seting film horor. Bagi yang memiliki nyali besar, tentunya Hotel Subang Plaza yang 'angker' ini sangat presentatif untuk uji nyali, atau wisata mistis di Subang. mch/baim
Terminal Subang Terminal Antar Kota Antar Provinsi Terminal Tife A di Kota Subang Jawa Barat

On April 14, 2019 with No comments

Terminal Subang adalah salah satu terminal besar Tife A di wilayah Jawa Barat, yang melayani para penumpang ke berbagai tujuan. Tak hanya dalam kota atau Antar Kota Dalam Provinsi, di Terminal Subang juga tersedia armada bus yang melayani trayek Antar Kota Antar Provinsi (AKAP).
Terminal subang bus warga baru, bus kramat jati, bus damri, bus asli terminal kota subang
Terminal Subang, Terminal Tife A di Kota Subang Jawara
DOTGO.ID. Subang adalah sebuah kota yang lokasinya berada di sebelah utara Bandung. Di bagian timur, Subang berbatasan dengan Indramayu dan Majalengka, juga Sumedang di tenggara. Sementara di barat berbatasan dengan Karawang dan Purwakarta.

Di bagian utara, wilayah Subang berbatasan dengan laut Jawa, atau yang dikenal dengan sebutan wilayah Pantura (pantai utara). Karenanya, sebagian wilayah Subang di utara ini dilalui oleh Jalan Nasional I Pantura, yang merupakan salah satu ruas jalan tersibuk di dunia.

Letak wilayah Subang yang merupakan jalur perlintasan ini sangat strategis dan penting. Selain Jalan Pantura, wilayah Subang di bagian tengah adalah akses utama jalur tengah yang membelah sebagian pulau Jawa.

Pasca beroperasinya Tol Cipali (Cikopo Palimanan), Subang pun makin sering menjadi tempat transit beragam moda transportasi. Meski demikian, beberapa moda transportasi yang sebelumnya melewati wilayah Subang kini beralih ke Tol Cipali.

Untuk warga Subang sendiri, telah disediakan Terminal Subang tife A, yang berlokasi di Jalan Darmodiharjo. Terminal Subang sendiri adalah terminal besar yang menjadi akses bagi beragam transportasi angkutan umum.

Tak hanya angkot (angkutan kota) yang beroperasi di seputaran wilayah Subang atau angkutan Elf jarak menengah, di Terminal Subang juga ada banyak armada Bus Antar Kota Antar Provinsi yang melayani penumpang tujuan Jakarta, Bandung, bahkan hingga Banten.

Untuk tujuan Jakarta khususnya Terminal Kampung Rambutan, tersedia Bus PO Warga Baru. Bus Warga Baru Subang - Jakarta via Kalijati - Sadang ini beroprasi setiap hari, sejak jam 01.30 dini hari jelang subuh, hingga menjelang sore antara jam 2 - jam 3 (atau disesuaikan dengan kebutuhan).

Selain PO Warga Baru, di Terminal Subang juga tersedia armada Bus Kramat Jati AC yang melayani trayek Subang - Kampung Rambutan, dengan rute yang sama, yakni via Kalijati - Sadang.

"Ada sekitar 15 armada bus Kramat Jati yang siap melayani penumpang dari Terminal Subang - Kampung Rambutan PP. Rute dan tarifnya sama dengan Warga Baru," ujar seorang awak Bus Kramat Jati, saat ditemui di Terminal Subang.

Selain tujuan Jakarta khususnya Terminal Kampung Rambutan, tersedia juga bus tujuan Bandung, yakni Bus Damri Teminal Subang - Terminal Cicaheum Bandung. Bus Damri Subang - Bandung ini juga rutin beroperasi setiap hari.

Selain bus Warga Baru, Kramat Jari dan Damri, masih ada bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) yang lain, yakni Bus Asli Prima tujuan Labuan Merak Banten.

Namun karena jumlah penumpang sedikit, bus Asli tujuan Labuan Merak tak rutin beroperasi. "Hanya beroperasi dua atau tiga kali dalam seminggu. Rutinnya tiap Minggu malam atau Senin pagi dini hari," ujar seorang petugas di Terminal Subang.

Selain Bus AKAP (Antar Kota Antar Provinsi), Terminal Subang juga menjadi tempat mangkal angkutan kota (angkot) yang beroperasi di seputaran wilayah kota Subang. Ada juga angkutan sejenis Elf tujuan Subang - Bandung via Lembang.

Selain menjadi akses moda transportasi, area Terminal Subang yang cukup luas ini juga sering dimanfaatkan untuk even tertentu yang melibatkan jumlah masa cukup banyak.

Setiap Minggu pagi, suasana di sekitar Terminal Subang yang bersebelahan dengan Pasar Tradisional Modern Subang ini akan sangat ramai, karena adanya bermacam kegiatan seperti senam bersama, bazaar, konser musik, atau pun kegiatan massal lainnya.
Terminal Subang Terminal Bus Antar Kota Antar Provinsi
Alamat Terminal Subang sendiri berlokasi di Jalan Darmodiharjo Nomor 1 Sukamelang Subang, telepone 0260 - 4242030. Lokasi Terminal Subang berdekatan dengan Pasar Tradisional Modern dan Sirkuit Gerry Mang Subang. mch/baim