Misteri Ajian Pancasona dan Rawarontek, Legenda Para Pendekat Sakti Tanah Jawa

Ajian Rawarontek atau Pancasona adalah ilmu kedigdayaan atau kesaktian yang cukup populer dan konon banyak dimilki oleh para jawara atau pendekar tangguh di Indonesia khususnya di tanah Jawa. Pancasona dan Rawarontek adalah legenda para pendekar sakti di bumi Nusantara.
Misteri Ajian Pancasona dan Rawarontek/film Jaka Sembung1980-an
DOTGO.ID. Misteri. Pancasona atau Ajian Rawarontek, adalah salah satu warisan budaya leluhur masyarakat Indonesia khususnya di Pulau Jawa. Tradisi Kejawen memang dikenal sangat kaya akan budayaa warisan leluhur yang sangat lekat dengan dunia mistis atau hal-hal yang berhubungan dengan alam gaib.

Pernahkah anda mendengar kisah sundel bolong, kuntilanak, siluman buaya putih, hantu pocong, dan segudang cerita misteri lainnya? Tentunya hal tersebut sangat sering kita dengar karena sebagian masyarakat kita yang masih meyakini keberadaan mahluk ghaib dari golongan siluman, selain Jin dan Syeitan tentunya.

Selain kisah-kisah misteri terakait mahluk halus, bangsa kita juga meyakini adanya kekuatan supranatural yang lahir berkat adanya sebuah mantera atau aji-ajian tertentu.

Sudah sejak ratusan tahun yang silam para pujangga dan sastrawan khususnya di tanah Jawa telah menuliskan keberadaan tokoh-tokoh sakti yang memilki berbagai ajian pamungkas yang dahsyat.

Kisah Ratu Pantai Selatan, Bandung Bondowoso, Sangkuriang, Damar Wulan dan Minak Jinggo, adalah beberapa diantaranya. Sejatinya, para pujangga menulis kehebatan tokoh-tokoh tersebut sebagai gambaran akan kemampuan mereka, karena saat itu kekuatan fisik lebih diutamakan. Karenanya, hal-hal gaib lebih ditonjolkan ketimbang sisi intelektualitas.

Salah satu legenda yang paling populer di tanah Jawa adalah adanya beberapa tokoh pendekar yang sangat sakti dan kebal senjata karena memiliki ajian Rawa Rontek atau Pancasona?

Ya, Rawa Rontek atau Pancasona begitu dikenal oleh sebagian masyarakat di pulau Jawa. Siapa yang memilki ajian ini, dia akan kebal senjata, dan meski anggota badannya terputus tetapi akan segera menyambung kembali jika menyentuh tanah.

Selain itu, siapapun yang memilki Rawarontek atau Pancasona, maka ia akan hidup kekal dan tak bisa mati hingga hari kiamat tiba. Sepintas, ajian ini memiliki kesamaan dengan kisah Vlad Draquila yang bersekutu dengan Lucifer untuk mendapatkan kekekalan.

Lucifer (Raja Iblis) lantas memberi kekuatan seitan kepada Vlad Draquila agar sakti mandraguna. Namun sebagai konsekuensinya Draquila juga harus menjadi pengikut Lucifer dan kekal di neraka. Kisah ini ditulis oleh Bram Stoker pada tahun 1897, dalam sebuah novel berjudul Dracula (ejaan Inggris).

Beratus-ratus tahun yang silam, ajian Rawa Rontek juga konon banyak dikuasai oleh orang Jawa. Leluhur masyarakat Jawa berusaha untuk menguasai ilmu tersebut karena saat itu segala persoalan harus diselesaikan dengan beradu fisik.

Tak sedikit dari mereka yang lantas mencoba dan akhirnya berhasil menguasai ilmu ini. Selain Rawa Rontek, ajian ini juga sering disebut Pancasona. Beberapa tokoh menyebutkan, Pancasona adalah Rawarontek yang sudah diputihkan dan harus melalui ritual yang lebih berat. 

Tak hanya di zaman kerajaan sejak sebelum abad 15. Pada sekitar abad 17, cukup banyak pula cerita rakyat mengenai ilmu Pancasona atau Rawa Rontek tersebut.

Bahkan konon, ada arsip kuno Belanda yang menyebutkan, banyak pejuang tanah Jawa yang tak mati mesti tertembak, yang menurut sebagian orang diduga menguasai ilmu atau ajian ini.

Karena merasa kewalahan dan tak sanggup menghadapi kesaktian beberaoa tokoh pejuang, Belanda lantas menerapkan politik divide et impera atau siasat adu domba diantara sesama pendekar dan jawara tanah Jawa. Tokoh pejuang yang sakti, maka harus dilawan oleh pendekar sakti yang mau menerima bayaran dari kompeni.

Menurut berbagai catatan dan legenda yang masih berkembang di tengah masyarakat Jawa, salah satu tokoh yang menguasai Rawarontek atau Pancasona salah satunya adalah Raden Djojodigdo, seorang pengikut setia Pangeran Diponegoro.

Djojodigdo yang masih memiliki darah Trah Mataram ini adalah putera Adipati Kulonprogo yang ikut serta dan menjadi pemimpin laskar Diponegoro dalam Perang Jawa II 1825-1830.

Djojodigdo sangat disegani dan ditakuti oleh kompeni Belanda karena konon kesaktiannya yang luar biasa. Meski telah berkali-kali tertangkap dan dieksekusi mati, namun tak lama kemudian Djojodigdo muncul dan hidup kembali.

Bahkan setelah Pangeran Diponegoro tertangkap, Djojodigdo tetap memimpin pasukannya melakukan perlawanan terhadap kompeni dengan cara bergerilya.

Karena Yogyakarta dan sekitarnya merupakan garnisun atau basis kekuatan Belanda di Jawa Tengah (bagian selatan), maka Djojodigdo memutuskan untuk menuju arah timur ke daerah Blitar agar perjuangan pasukannya tidak terlalu berat.

Di sepanjang perjalanan antara Yogya dan Blitar, laskar Diponegoro pimpinan Djojodigdi ini banyak merebut pos Belanda. Belanda pun kewalahan dan akhirnya membiarkan daerah Blitar tanpa pengawasan yang ketat.

Adipati Blitar yang merasa heran karena kompeni banyak menarik pasukannya dari daerahnya lantas mencari tahu dengan mengirim telik sandi. Setelah mengetahui kekuatan kompeni banyak berkurang karena mendapat serangan laskar Djojodigdo,

Adipati lantas mengundang Djojodigdo untuk turut bergabung di Kadipaten, namun Djojodigdo menolak karena masih sibuk melatih pasukannya untuk terus bergerilya dan melakukan serangan ke pos-pos pertahanan kompeni Belanda.

Dua tahun kemudian, Adipati kembali mengirim utusan dan bersikeras meminta Djojodigdo bergabung dan mengisi posisi Patih Kadipaten karena kebetulan patih sebelumnya baru saja meninggal dunia.

Raden Djojodigdo akhirnya menerima tawaran tersebut dan menjadi Patih Kadipaten Blitar sambil terus melakukan perlawanan pada kompeni Belanda.

Karena jasa-jasanya melepaskan Blitar dari cengekeraman kompeni, Patih Djojodigdo lantas dianugerahi tanah luas yang kini berlokasi di Jalan Melati kota Blitar. Di atas tanah tersebut, ia kemudian mendirikan rumah keluarga yang besar dan diberi nama Pesanggarahan Djojodigdo, yang masih tetap berdiri kokoh hingga saat ini.

Djojodigdo sendiri diyakini meninggal pada tahun 1905 atau 20 tahun setelah Pangeran Diponegoro meninggal di pengasingan. Karena diyakini memiliki ajian Rawarontek atau Pancasona, makam Djojodigdo dibangun tak menyentuh tanah agar tak hidup kembali.

Raden Djojodigdo dimakamkan dalam sebuah peti besi yang disangga empat tiang besi hingga dikenal sebagai Makam Gantung Eyang Djojodigdo.

Makam Gantung Eyang Djojodigdo yang berlokasi di Jalan Melati Kota Blitar atau berjarak sekitar 1 km dari makam Bung Karno ini banyak diziarahi oleh masyarakat dan juga para spiritualis.

Konon menurut banyak praktisi alam gaib, makam gantung ini dijaga oleh dua mahluk tak kasat mata berbentuk ular raksasa dan macan loreng sebesar anak sapi.

Dalam dunia pewayangan Jawa, ajian Rawa Rontek atau Pancasona hanya dimiliki oleh beberapa tokoh saja salah satunya adalah Rahwana atau Dasamuka dari kerajaan Alengka. Karena memiliki ajian Pancasona, Dasamuka sangat sulit dikalahkan dan hanya bisa dikalahkan oleh Hanoman yang merupakan putera dari Batara Guru.

Meski bisa dikalahkan, Dasamuka sendiri tak bisa mati begitu saja saking dahsyatnya ajian Pancasona tersebut. Karenanya, Dasamuka lalu diasingkan dan 'dipenjara' dengan cara diapit atau digencet di Gunung Sondara dan Sondari.

Namun demikian, roh Dasamuka kerap turun ke dunia marcapada dan merasuki tokoh-tokoh jahat untuk membuat kekacauan. Saat itulah Hanoman juga akan turun dan mencari Dasamuka dan membawanya kembali ke Gunung Sondara dan Sondari.

Banyak yang meyakini riwayat Rahwana dan ajian Rawa Rontek atau Pancasona ini adalah cerita rekaan pewayangan hasil gubahan Sunan Kalijaga.

Ajian Rawa Rontek dan Pancasona adalah sebagai gambaran dahsyatnya kekuatan jahat dalam diri Rahwana, namun akhirnya tetap kalah oleh kebenaran yang digambarkan pada sosok Sri Rama dan Hanoman.

Namun demikian, adanya catatan-catatan dari jaman penjajahan yang menyebutkan keberadaan beberapa tokoh dan pendekar sakti yang memiliki Rawarontek atau Pancasona ini juga memunculkan keyakinan bahwa ilmu atau ajian yang dahsyat tersebut bukanlah cerita rekaan.

Tak mengherankam jika hingga saat ini masih banyak orang yang tertarik untuk menguasai dan menguak misteri dari Ajian Pancasona dan Rawarontek ini.

Hingga kini, cukup banyak buku-buku tertentu yang ditulis ulang untuk menjabarkan tata cara menguasai ilmu tersebut. Kita juga bisa dengan mudah menemukan buku-buku yang dijual bebas dan memuat mantera juga ritual ilmu ini.

Sayangnya, Ritual ilmu Pancasona atau Rawarontek sendiri terbilang sangat berat karena diantaranya harus berpuasa hingga 40 hari 40 malam. Tentunya banyak dari kita yang lantas bertanya-tanya apakah Ajian Rawarontek dan Pancasona ini mitos ataukah fakta, atau mungkin juga hanya sekedar legenda?
Misteri Kesaktian Pangeran Diponegoro melawan Belanda, Perang Jawa 1825-1830
Apapun itu, tentunya kisah ajian Rawa Rontek dan Pancasona adalah sebuah warisan karya budaya dari para leluhur, para empu, sastrawan dan pujangga di masa yang lampau yang harus dirawat dan dijaga. mch
Soeara Rakjat Just Think of Reading, Writing and Vlogging! We Can Share Everything!

0 Response to "Misteri Ajian Pancasona dan Rawarontek, Legenda Para Pendekat Sakti Tanah Jawa"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel