Lutung Kasarung dan Puteri Purbasari, Cerita Buhun Masyarakat Sunda yang Sangat Melegenda

Lutung Kasarung adalah legenda kuno dari Jawa Barat yang dikenal luas oleh masyarakat Sunda di Tatar Parahyangan. Tak hanya sebagai sebuah cerita, legenda Lutung Kasarung juga berkaitan erat dengan keyakinan buhun masyarakat Sunda atau dikenal dengan sebutan Sunda Wiwitan. Lutung Kasarung adalah legenda yang cukup populer bagi masyarakat Jawa Barat selain dari kisah Nyi Lara Kidul.
Kisah lutung kasarung guruminda di pasirbatang
Adegan film Lutung Kasarung 1983
DOTGO.ID. Legenda. Lutung Kasarung, adalah sebuah cerita yang berkisah tentang Sanghyang Guruminda yang harus pergi mengembara ke Buana Panca Tengah atau alam manusia. Guruminda berkelana ke dunia karena menolak menikah dengan bidadari Kahyangan.

Guruminda hanya mau menikah dengan wanita yang kecantikannya setara dengan Sunan Ambu, ibunya. Sementara wanita yang kecantikannya setara dengan Sunan Ambu hanya berada di alam manusia bukan di Kahyangan.

Dalam salah satu versi pantun Sunda klasik disebutkan, Sanghyang Guruminda turun ke bumi namun bukan dalam bentuk manusia yang tampan. Guruminda mengembara ke dunia dalam bentuk seekor lutung (sejenis kera berwarna hitam legam).

Meski demikian, Guruminda tetap memiliki kesaktian yang luar biasa karena ia adalah putera dari Sunan Ambu, dewa agung tertinggi menurut keyakinan Sunda Wiwitan.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, seorang putri keraton yang cantik jelita bernama Purbasari dari kerajaan Sunda sedang diasingkan ke dalam hutan. Purbasari adalah puteri Prabu Tapa Agung dari kerajaan Pasir Batang. Purbasari sendiri diasingkan karena ulah dan hasutan kakak perempuannya.

Purbasari yang jelita dan berbudi luhur ini memiliki kakak perempuan yang berwatak jahat yaitu Purbararang. Selain Purbararang, Purbasari juga memiliki lima kakak perempuan yang lain yakni Purbaendah, Purbadewata, Purbakencana, Purbamanik dan Purbaleuih.

Berbeda dengan Purbasari yang lembut dan penuh kasih sayang, anak sulung Prabu Tapa Agung yaitu Purbararang berwatak sombong dan berperilaku sangat buruk.

Sudah sejak lama Prabu Tapa Agung memperhatikan perilaku puteri bungsunya yang sangat santun dan lemah lembut. Purbasari gemar menolong pada siapa saja yang membutuhkan. Selain itu, Purbasari juga merupakan puteri tercantik diantara puteri Pasir Batang yang lain.

Atas pertimbangan tersebut, Prabu Tapa Agung berniat mewariskan takhta Pasir Batang pada Purbasari jika dirinya turun takhta dan menjadi petapa.

Waktu yang dinanti-nanti pun akhirnya tiba. Di hadapan seluruh pembesar kerajaan dan ketujuh puterinya, Prabu Tapa Agung lantas mengutarakan niatnya yang ingin segera mengasingkan diri dan menjadi seorang petapa.

Sang prabu lantas menegaskan, kedudukannya sebagai raja di negeri Pasir Batang akan digantikan oleh Purbasari, puteri bungsunya.

Mendengar hal tersebut, Purbararang sangat murka karena sebagai anak tertua dirinya merasa berhak atas takhta Kerajaan Pasir Batang. Purbararang lantas menyusun rencana jahat. Purbasari menemui Indrajaya kekasihnya, dan keduanya lantas meminta bantuan nenek sihir dari golongan hitam untuk mencelakai Purbasari.

Nenek sihir jahat kemudian memberi ramuan dari bahan tumbuhan yang telah dihaluskan (boreh: Sunda) berwarna hitam. Nenek sihir lantas berpesan, boreh yang telah diberi mantra jahat tersebut harus disemburkan ke wajah dan bagian tubuh Purbasari.

Purbararang pun bergegas kembali ke keraton dan segera saja melaksanakan pesan nenek sihir tersebut. Boreh atau bedak yang mengandung ilmu hitam sangat jahat itu kemudian disemburkan ke wajah dan bagian tubuh Purbasari. Setelah terkena boreh jahat, dari tubuh Purbasari bermunculan bercak-bercak (koreng) berwarna hitam yang sangat mengerikan.

Melihat kondisi Purbasari yang sedemikian rupa, Purbararang lantas mengatakan, Purbasari harus diusir dari istana karena membawa penyakit atau kutukan yang mengerikan dan bisa menular jika tidak segera diusir atau diasingkan.

"Purbasari telah dikutuk dengan penyakit yang mengerikan. Dia tidak pantas menduduki takhta kerajaan Pasir Batang, dan harus segera diasingkan agar penyakitnya tidak menular."

Setelah itu, Purbararang mengambil takhta Pasir Batang dan memerintahkan Uwa Batara atau Paman Lengser untuk segera membawa Purbasari ke dalam hutan. Dalam waktu yang hampir bersamaan, Sanghyang Guruminda juga turun dari Kahyangan untuk mencari gadis impiannya. Saat itu, Guruminda sudah berubah wujud dalam bentuk seekor lutung.

Sejak berada di dunia manusia, Guruminda telah banyak mendengar kejahatan Purbararang di Pasir Batang. Saat mendengar Purbararang sedang mencari hewan kurban, Guruminda membiarkan dirinya ditangkap dan dibawa ke negeri Pasir Batang.

Saat berada di istana itulah Guruminda atau Lutung Kasarung mengamuk dan membuat banyak kerusakam di istana. Seluruh prajurit Pasir Batang pun merasa kewalahan untuk menjinakan Lutung Kasarung.

Melihat prajuritnya tak berdaya, Purbararang memerintahkan Paman Lengser untuk menangkap lutung jadi-jadian tersebut. Anehnya, Lutung Kasarung seolah enggan melawan dan hanya pasrah saat Lengser berusaha menangkapnya.

Purbararang kemudian memerintahkan Lengser agar lutung tersebut di bawa ke dalam hutan di mana Purbasari sedang diasingkan. Purbararang mengira Purbasari akan dimangsa lutung yang menurut keyakinannya adalah seekor binatang buas.

Paman Lengser atau Uwa Batara merasa yakin lutung kasarung bukanlah binatang biasa. Setelah masuk ke dalam hutan tempat Purbasari diasingkan, Lengser lantas berpesan, "Purbasari adalah pewaris takhta Pasir Batang yang sejati. Namun karena kekuatan jahat dari kakaknya, Purbasari harus diasingkan, engkau harus menjaganya," ujar Uwa Batara. 

Lutung Kasarung pun menganggukan kepala dan memahami apa yang dikatakan oleh Uwa Batara atau paman Lengser. Sejak itu, Guruminda menjadi sahabat baik Purbasari. Keduanya selalu menghabiskan waktu bersama di dalam hutan.

Guruminda juga selalu memerintahkan para lutung dan kera untuk mencari buah-buahan yang lezat untuk Purbasari. Seiring waktu yang berjalan, timbulah benih-benih cinta diantara Purbasari dan Guruminda.

Guruminda lantas memohon kepada ibunya di Kahyangan agar dbuatkan taman dan pemandian dengan pancuran terbuat dari emas juga pakaian yang keindahannya tak ada di dunia manusia.

Sunan Ambu lantas memerintah para dewa dan bidadari untuk turun ke dunia dan memenuhi keinginanan puteranya tersebut. Tak beberapa lama, para dewa dan bidadari berhasil membuat taman yang indah dengan pemandian yang pancurannya terbuat dari emas tersebut. 

Melihat pemandian yang airnya sangat jernih yang disebut Jamban Salaka, Purbasari pun merasa ingin mandi. Saat Purbasari membasuh muka dan tubuhnya dengan air dari Jamban Salaka itulah semua penyakit yang dideritanya mendadak sirna.

Lutung Kasarung pun terkesima melihat kecantikan Purbasari yang bahkan mampu mengalahkan Sunan Ambu, ibunya. Meski Purbasari telah berubah ke wujud semula, namun kasih sayangnya pada Guruminda atau Lutung Kasarung tidaklah berubah.

Mendengar kabar kecantikan Purbasari telah kembali, Purbararang merasa tak yakin karena ia tetap beranggapan boreh dengan mantra jahat mengandung kutukan yang kuat. Purbasari lantas mengajak kekasihnya Indrajaya untuk melihat langsung keadaan Purbasari.

Purbararang sangat terkejut melihat kecantikan Purbasari telah kembali, Purbasari bahkan terlihat lebih cantik dengan balutan pakaian dari Kadewatan yang terbuat dari awan tersebut.

Mendapati kenyataan ini, Purbararang merasa sangat khawatir Purbasari bisa mengancam kedudukannya sebagai Ratu Pasir Batang. Purbararang lantas menyususn rencana untuk meyingkirkan Purbasari selamanya.

Ia lantas menantang Purbasari untuk beradu panjang rambut masing-masing. "Jika rambutku lebih panjang dari rambut Purbasari, maka Purbasari harus dihukum penggal oleh algojo."

Sayangnya, Purbararang harus menelan pil pahit karena rambut Purbasari ternyata lebih panjang hingga mencapai bagian tumit. Untuk menutupi kekecewaannya, Purbararang lantas mengumumkan tantangan baru di hadapan seluruh rakyat Pasir Batang,

"Jika wajah kekasih Purbasari lebih tampan dibanding dengan wajah tunanganku, maka singgasana Pasir Batang akan kuserahkan pada Purbasari. Namun jika sebaliknya, maka leher Purbasari akan dipenggal."

Purbasari yang mulai kebingunan lantas menggenggam erat tangan Guruminda. Purbasari berkata, "Lutung, aku mencintaimu dan ingin engkau menjadi suamiku."

Ucapan Purbasari yang diiringi linangan air mata membuat Guruminda sangat terharu. Guruminda atau Lutung Kasarung lantas mengusap air mata yang mengalir di pipi Purbasari.

Melihat adegan tersebut, Purbararang dan kelima adik perempuannya yang lain kemudian tertawa terbahak-bahak. "Monyet hitam itu tunanganmu?," tanya Purbararang. Dengan penuh keyakinan Purbasari lantas menjawab, "Iya, lutung ini adalah tunanganku."

Karena merasa telah menang, Purbararang lantas memerintahkan algojo untuk memenggal leher Purbasari. Namun sebelum itu terjadi, Lutung Kasarung tiba-tiba duduk bersila didepan Purbasari sambil berdoa memohon kepada Sunan Ambu, ibundanya di alam Kadewatan.

Sejurus kemudian, asap tebal menyelimuti tubuh Lutung Kasarung dan begitu asap tersebut sirna, munculah sosok Sanghyang Guruminda yang sangat tampan, gagah nan rupawan.

Ketampanan Guruminda sebagai putera Suanan Ambu dari Kahyangan bahkan jauh melebihi Indrajaya, tunangan Purbararang.

Di hadapan rakyat Pasir Batang, Guruminda lantas mengumumkan bahwa Purbasari adalah pemilik sah takhta kerajaan. Purbararang yang mengalami kekalahan atas tantangan yang dibuatnya lantas memohon maaf dan ampun kepada Purbasari.

Dengan budi pekerti dan kebaikan hatinya, Purbasari pun memaafkan Purbararang meski kakaknya tersebut telah berbuat kejahatan.Sejak itu, Purbasari kembali memimpin Kerajaan Galuh Pakuan atah negeri Pasir Batang dengan adil dan bijaksana.
Lutung Kasarung Kisah Guru Minda dan Dewi Purbasari
Seluruh rakyat pengisi negeri merasa sangat bahagia karena ratu mereka yang sejati telah kembali, dan menikah dengan Hyang Guruminda, seorang pangeran tampan dari Kahyangan. Kehidupan negeri Galuh Pakuan Pasir Batang pun kembali sejahtera, aman dan tenteram. mch
Soeara Rakjat Pecinta Seni, Budaya, dan Wisata

0 Response to "Lutung Kasarung dan Puteri Purbasari, Cerita Buhun Masyarakat Sunda yang Sangat Melegenda"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel