ADVERTISEMENT

Search This Blog

Powered by Blogger.

Makam Raden Arya Wiralodra dan Senjata Pusaka Paling Bersejarah di Kabupaten Indramayu

On September 08, 2017 with No comments

Makam Raden Wiralodra di Indramayu, adalah salah satu tempat yang paling bersejarah karena Wiralodra sendiri diyakini sebagai pendiri kota Indramayu. Berdasarkan prasasti Wiralodra yang kini tersimpan di Pendopo Kabupaten Indramayu disebutkan, Raden Wiralodra dan Ki Tinggil bersama beberapa pengikutnya adalah orang yang pertamakali membuka dan mendirikan pemukiman di sekitar muara Kali Cimanuk yang menjadi cikal bakal kota Indramayu.
Raden wiralodra pendiri indramayu dimakamkan di sindang indramayu
Prasasti Raden Arya Wiralodra Indramayu
DOTGO.ID. Sejarah. Raden Wiralodra adalah seorang pangeran asal Bagelen Purworejo, Jawa Tengah. Wiralodra adalah putera dari Ki Gede Bagelen atau Tumenggung Arya Singalodra yang mendapat wangsit untuk mengembara ke daerah barat tempat terbenamnya matahari.

Konon saat melakukan tapa-brata di Gunung Sumbing, Raden Wiralodra mendapat wangsit untuk membuka lahan di daerah sekitar muara Cimanuk jika ingin mendapatkan kesejahteraan.

Raden Wiralodra lalu membuka pedukuhan dan menamainya dengan nama Dukuh Cimanuk. Setelah memisahkan diri dari Kerajaan Galuh pada sekitar abad 16, pedukuhan Cimanuk lalu menjadi negeri Darma Ayu atau kini dikenal dengan Indramayu.

Raden Arya Wiralodra juga cukup banyak meninggalkan catatan salah satunya Prasati Wiralodra yang kini tersimpan di Pendopo Kabupaten Indramayu. 

Dalam prasati Wiralodra disebutkan, kelak tujuh turunan Raden Arya Wiralodra akan menjadi pemimpin di Indramayu. Hingga kini, makam Raden Wiralodra menjadi tempat yang paling banyak diziarahi oleh masyarakat Indramayu dan sekitarnya. Makam Wiralodra menjadi situs peninggalan paling bersejarah yang masih tetap terjaga dan terawat dengan baik.

Selain prasasti, Raden Wiralodra juga meninggalkan banyak benda pusaka berupa keris dan senjata utamanya yakni Cakra Udaksana. Senjata berbentuk lingkaran segi delapan tersebut diyakini memiliki kekuatan spiritual yang sangat ampuh.

Konon, Raden Wiralodra berhasil menemukan daerah Cimanuk dan kemudian mendirikan pemukiman sebagai cikal-bakal kota Indramayu berkat petunjuk dari Cakra Udaksana.

Cakra Udaksana yang juga kini tersimpan di Pendopo Indramayu sangat serupa dengan Surya Majapahit atau Bintang Raja yang biasa digunakan oleh Sultan dan Raja Jawa kala itu.

Delapan sisi Cakra Udaksana mengandung makna filosofis yang berkaitan erat dengan alam semesta dan sifat-sifatnya. Setiap sisi dari Cakra Udaksana melambangkan kekuatan alam, yakni langit, matahari, bulan, bintang, bumi, angin, air dan api.

Meski usianya sudah ratusan tahun, namun Cakra Udaksana yang kini tersimpan di Pendopo Indramayu tidak pernah berkarat.

Dalam dunia pewayangan, senjata cakra juga selalu digunakan oleh Sri Kresna dan Sri Rama yang mana keduanya adalah awatara atau titisan Wisnu. Senjata Cakra sendiri memang melambangkan alam semesta sesuai dengan karakter Wisnu sebagai dewa pemelihara.

Namun demikian, Raden Wiralodra sendiri beragama Islam. Selain membuka pedukuhan Cimanuk yang kemudian menjadi negeri Darma Ayu, Raden Wiralodra juga diyakini sebagai salah satu penyebar Islam di daerah pesisir utara Jawa Barat tersebut.

Selain Cakra Udaksana, pusaka lainnya yang cukup sakral adalah Petaka Gagak Pinangsih yang digunakan oleh Wiralodra IV. Pusaka Gagak Pinangsih adalah panji kebesaran Indramayu saat Wiralodra IV berperang menghadapi pasukan Belanda dalam sebuah pemberontakan yang meletus pada sekitar tahun 1778.

Komplek Makam Arya Wiralodra sendiri berlokasi di Blok Karang Baru, Desa Sindang, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu. Kompleks pemakaman ini berada di tengah pemukiman dan berbatasan dengan area atau rumah-rumah penduduk di bagian selatan, timur, dan utara. Sementara bagian baratnya berbatasan dengan lahan kosong yang dimanfaatkan sebagai kebun warga.

Hingga saat ini, makam Raden Wiralodra sudah mengalami dua kali pemugaran. Perombakan atau pemugaran pertama dilakukan pada tahun 1965 dan pemugaran yang kedua dilakukan pada tahun 1985. Sejak pemugaran kedua, semua makam yang ada dalam komplek makam Raden Arya Wiralodra sudah mengalami perombakan secara total.

Komplek makam Wiralodra dikelilingi pagar tembok dengan gerbang masuk utama yang berada di sisi selatan. Saat memasuki komplek makam melalui pintu utama, para peziarah akan sampai di serambi di depan cungkup makam Arya Wiralodra. Cungkup Makam Wiralodra yang menghadap ke timur ini adalah bangunan baru yang dibangun dengan fondasi lebih kuat dan kokoh.

Dalam cungkup tersebut, terdapat ruangan yang dibatasi atau disekat menjadi dua dan masing-masing sekat menjadi pintu masuk tanpa daun pintu. Pintu masuk cungkup langsung menuju ke ruangan sebelah selatan yang mana dalam ruangan ini terdapat makam Ki Tinggil. Ki Tinggil sendiri adalah pengikut setia Raden Wiralodra saat datang dan membuka pemukiman di sekitar Kali Cimanuk.

Sedangkan jika melalui pintu penghubung yang berada di ujung timur sekat ruangan, peziarah akan langsung memasuki ruangan sebelah utara di mana makam Arya Wiralodra I berada. Baik makam Arya Wiralodra maupun makam Ki Tinggil, keduanya sudah sama-sama direnovasi.

Selain cungkup makam Raden Wiralodra dan Ki Tinggil, terdapat pula cungkup makam lain di sebelah timur laut. Dalam cungkup yang menghadap ke arah barat tersebut, terdapat makam Arya Wiralodra III dan beberapa keturunannya. Selain itu, di sekitar kedua cungkup ini banyak ditemukan makam-makam lain yang merupakan makam dari para kerabat Raden Arya Wiralodra.

Makam Raden Arya Wiralodra yang merupakan pendiri Kabupaten Indramayu ini merupakan peninggalan paling bersejarah di Kabupaten Indramayu. Raden Wiralodra sendiri resmi menjadi pemimpin atau kepala daerah Darma Ayu (Indramayu) pada tanggal 7 Oktober 1527.

Karenanya, tanggal 7 Oktober juga diperingati sebagai hari jadi atau berdirinya Kabupaten Indramayu. Setiap tahunnya, masyarakat Indramayu akan menggelar Festival Tjimanoek dengan membacakan silsilah dari pendiri dan para pemimpin Indramayu sejak pertamakali berdiri hingga saat ini.
Festival Tjimanoek yang dihadiri bupati, sesepuh, tokoh dan elemen masyarakat Indramayu ini digelar di makam Raden Arya Wilalodra. baim/mch
-->
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »