Sejarah dan Eksistensi Desa Tanjungtiga Blanakan Subang Sejak 1875, Sebelum dan Sesudah Merdeka


Tanjungtiga, adalah sebuah desa yang terletak di pesisir utara Laut Jawa tepatnya di Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Desa ini berbatasan dengan Desa Muara di bagian barat, Kali Batang di bagian timur, desa Mandalawangi dan Ciasem di bagian selatan, serta laut Jawa di bagian utara. Saat masih menjadi bagian dari Desa Muara Ciasem, desa ini disebut Muara Sabrang Wetan sebelum akhirnya terbentuk menjadi sebuah desa pada akhir abad 19. 
Desa tanjungtiga bagian dari desa muara ciasem

DOTGO.ID. Sejarah. Desa Tanjungtiga, merupakan salah satu desa yang sebagian besar wilayahnya berada di aliran sungai Ciasem. Desa dengan luas wilayah sekitar 1.766 hektare ini memanjang dari selatan ke utara hingga ke timur dengan batas kecamatan Sukasari. Desa Tanjungtiga juga dikenal dengan sebutan Muara Sabrang Wetan karena lokasinya berada di sebelah timur kali Ciasem. 

Menurut arsip yang tersimpan di kantor desa, pemukiman awal di desa ini mulai terbentuk pada sekitar tahun 1700-an. Penduduk awal di desa ini diyakini adalah para pendatang yang sebagian besarnya adalah para prajurit Kesultanan Mataram yang enggan pulang saat melukukan penyerbuan ke Batavia (kini Jakarta). Selain itu, ada pula pendatang dari Cirebon dan Sumedang. 

Sekitar tahun 1628, Sultan Agung Mataram pernah melakukan ekspedisi untuk mengusir Belanda dari tanah Jawa dengan mengirim pasukan besar ke Batavia melalui jalur pantai utara. Ekspedisi pasukan Mataram yang juga didukung oleh beberapa Kesultanan di Jawa salah satunya Kesultanan Cirebon ini sering disebut juga Perang Jawa I. 

Namun sayangnya, pasukan Mataram tercerai-berai setelah kekurangan pasokan logistik. Prajurit Mataram pun mundur dari Batavia dan mendirikan kamp atau basis pertahanan sekaligus membuka lahan pertanian di sepanjang jalur Karawang hingga Cirebon. Cukup banyak pula para prajurit Mataram yang enggan pulang lalu menikah dengan penduduk setempat dan kemudian menetap atau membuka lahan di sepanjang pesisir laut Jawa. 

Keberadaan prajurit Mataram di desa Tanjungtiga sendiri bisa dibuktikan dengan ditemukannya senjata berupa keris dengan serangka/sarung berlapis kuningan. Selain itu, pamor, motif atau ukiran dalam keris maupun serangkanya sangat serupa dengan keris yang ada di Jawa Tengah khususnya Mataram. Lebih dari itu, sebagian masyarakat desa Tanjungtiga juga menggunakan bahasa Jawa dengan dialek Jawa Tengah bagian selatan yang kental seperti Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara dan sebagian Kebumen. 

Namun demikian tidak menutup kemungkinan sudah ada penduduk yang bermukim di desa Tanjungtiga sebelum ekspedisi Mataram ke Batavia. Asumsi tersebut muncul dikarenakan keberadaan Sungai Ciasem yang merupakan sungai purba yang cukup besar dan bermuara di laut Jawa. Dengan kondisi tersebut, sangat mungkin pula sudah ada pemukiman nelayan dari para penjelajah atau pelaut nusantara yang kemudian menetap atau singgah untuk sementara waktu di sekitar muara sungai Ciasem 

Catatan sejarah juga menyebutkan, sebagain besar peradaban kuno di dunia hampir kesemuanya berkaitan erat dengan sungai. Salah satunya adalah peradaban Mesopotamia yang merupakan salah satu peradaban tertua di dunia yang ditemukan di lembah sungai Tigris dan sungai Eufrat di Iraq. Selain itu, peradaban tertua lainnya juga ditemukan di Sungai Nil di Mesir, Sungai Kuning di China, juga Sungai Amazon di benua Amerika. Sementara di Indonesia sendiri cukup banyak ditemukan peradaban manusia purba di sekitar sungai Bengawan Solo, Jawa Tengah.

Kebutuhan akan air untuk mandi, mencuci dan memasak, membuat manusia selalu berusaha untuk mendapat akses yang mudah ke sumber air salah satunya sungai. Meski masih belum ditemukan bukti-bukti akan adanya peradaban manusia di desa Tanjungtiga sebelum abad 18, namun keberadaan sungai Ciasem sedikit banyaknya memberi gambaran akan kemungkinan adanya peradaban meski dalam bentuk yang sangat sederhana. Selanjutnya bagian 2: Desa Tanjungtiga sebelum merdeka
1 2 3
Soeara Rakjat Pecinta Seni, Budaya, dan Wisata

0 Response to "Sejarah dan Eksistensi Desa Tanjungtiga Blanakan Subang Sejak 1875, Sebelum dan Sesudah Merdeka"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel