ADVERTISEMENT

Search This Blog

Powered by Blogger.

Pertigaan Celeng Indramayu, Persimpangan Legendaris di Jalur Utama Pantura Jawa barat

On November 18, 2017 with No comments

Pertigaan Celeng, adalah sebuah persimpangan yang menjadi bagian dari jalan lintas Pantura di jalur utama Jawa yang berada di wilayah Kabupaten Indramayu. Pertelon Celeng dalam bahasa setempat, berlokasi di Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu. Sebelum jalan baru yang menghubungkan Lobener-Widasari-Jatibarang broperasi, pertigaan Celeng adalah persimpagan yang sangat sibuk dan padat karena menjadi satu-satunya akses langsung menuju Kota Indramayu dan wilayah Ciebon.
Pertigaan sejarah perempatan celeng indramayu
Pertigaan Celeng, Lohbener, Indramayu
DOTGO.ID. Lohbener, adalah sebuah daerah kecamatan di kabupaten Indramayu yang wilayahnya dilalui oleh jalan pantai utara (Pantura) yang menjadi akses utama atau jalan arteri di pula Jawa. Sebelum Tol Cipali (Cikopo-Palimanan) beroperasi, jalur Pantura yang meghubungkan wilayah paling barat hingga ujung timur pulau Jawa ini adalah salah satu jalur tersibuk di Indonesia, Asia, bahkan dunia.

Sebelum jalan baru Lohbener-Widasari (pertigaan celeng baru) beroperasi pada tahun 2011, para pengendara baik mobil pribadi, angkutan umum hingga truk gandengan sudah sangat familiar dengan sebuah pertigaan yang berlokasi di Lohbener, yang dikenal dengan sebutan pertigaan celeng. Pertigaan ini memang jalur yang wajib dilalui bagi para pengendara yang ingin menuju Indramayu, Cirebon, Jawa Tengah hingga Jawa Timur.

Karena menjadi salah satu jalur perlintasan yang cukup vital, tak ayal pertigaan celeng kerap diwarnai oleh kemacetan panjang terutama saat musim liburan ataupun mudik lebaran. Namun sejak jalan baru yang menghubungkan kecamatan Lohbener dan Widasari mulai beoperasi, situasi di Pertigaan Celeng pun berubah drastis menjadi lengang dan sepi. Hanya warga sekitar atau para penendara yang hendak menuju Kota Indramayu dan sekitarnya saja yang nampak masih melalui jalan lama ini. Sementara kendaraan yang hendak menuju Cirebon atau Jawa Tengah mayoritasnya akan mengambil rute jalan baru.

Beberapa dekade sebelumnya, pertigaan Celeng adalah salah satu tempat pemberhentian kendaraan karena nama besarnya. Cukup banyak para pengendara terutama dari luar kota yang merasa penasaran karena popularitas pertigaan tersebut. Selain sebagianya berhenti untuk makan atau sekedar bersantai, sebagian lainnya sibuk membeli buah mangga karena saat itu masih cukup banyak pedagang oleh-oleh khas Indramayu tersebut yang dijajakan di sekitar pertigaan ini.

Buah mangga sendiri menjadi buah ikonik yang memang sangat mudah ditemui di seluruh tempat di Indramayu. Salah satu buah mangga khas Indramayu yang sangat sulit ditemui di daerah lain adalah jenis mangga gedong gincu. Mangga gedong gincu bahkan menjadi komoditas ekspor karena tekstur dan rasanya yan sangat manis dan menyegarkan. Karenanya, Indramayu sendiri dijuluki sebagai Kota Mangga.

Selain pedagang oleh-oleh khususnya buah mangga, pertigaan Celeng juga dikenal sebagai terminal bayangan atau stamplat (dalam bahasa lokal) karena banyaknya angkutan umum baik elf, Kopayu (bus sedang) maupun bus AKAP (Antar Kota Antar Provnsi) seperti Luragung, Sahabat, Bhineka atau Warga Baru yang berhenti untuk menurunkan atau menaikan penumpang. Di 'masa jayanya' pertigaan Celeng adalah tempat berkumpulnya para penumpang yang hendak menuju Jakarta, Cirebon ataupun kota Indramayu sendiri.

Lebih dari itu, Celeng juga dikenal karena keberadaan beberapa dalang wayang yang meski tak beralamat di pertigaan Celeng namun tetap disebut sebagai dalang wayang asal celeng, seperti Ki Dalang Rusfi salah satunya. Pertigaan Celeng juga diabadikan dalam sebuah lagu tarling yang cukup populer dengan judul yang sama, yakni Pertelon (pertigaan) Celeng.

Tak jelas mulai kapan dan mengapa persimpangan atau pertigaan di Lohbener ini disebut sebagai Pertigaan Celeng. Namun demikian, banyak yang menduga penggunaan nama 'Celeng' sendiri sudah berlangsung sejak ratusan tahun silam. Hal tersebut merujuk pada pembangunan jalan Anyer-Panarukan di masa Herman Willem Daendels, yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal Belanda pada tahun 1808-1811.

Pembangunan Jalan Anyer-Panarukan atau disebut juga Jalan Raya Pos ini berhasil diselesaikan oleh Daendels hanya dalam tempo satu tahun tepatnya sejak 1808 hingga 1809. Selain membangun sebagian besar jalan yang kini dikenal sebagai Jalan Pantura, Daendels juga membangun jalan di bagian tengah Jawa Barat yang menghubungkan Banten, Jakarta, Bogor, Cianjur, Bandung, Sumedang, Majalengka dan Cirebon lalu ke arah timur memasuki wilayah Jawa Tengah.

Saat membangun jalan poros tersebut, Daendels mewajibkan para penguasa pribumi di sepanjang daerah yang dilalui untuk memobilisasi rakyat guna melakukan kerja paksa. Di masing-masing daerah, rakyat dipaksa bekerja membangun jalan dengan panjang yang telah ditentukan. Jika gagal, maka Daendels akan memberi hukuman yang sebagian besarnya dengan cara dieksekusi.

Meski karena gaya kepemimpinannya yang keras Daendels kemudian dijuluki tangan besi, namun ia juga menorehkan prestasi luar biasa karena berhasil menyelesaikan jalan tersebut hanya dalam waktu satu tahun dengan peralatan dan teknologi yang saat itu masih seadanya. Sementara di lain pihak, cukup banyak rakyat Indonesia yang menderita dan bahkan menjadi korbannya.
Saat ini, Jalan Anyer-Panarukan membentang dari ujung barat pulau Jawa di Provinsi Banten hingga ke ujung timur di Banyuwangi. Sebelum Tol Cipali yang terintegrasi dengan Tol Trans Jawa beroperasi, Jalan Pantura termasuk Pertigaan Celeng lama adalah jalur utama yang harus dan wajib dilalui oleh para pengendara yang hendak menuju wilayah timur pulau Jawa dan atau sebaliknya. mch/baim
-->
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »