ADVERTISEMENT

Search This Blog

Powered by Blogger.

Candi Arjuna Sejarah Candi Dieng Situs Purbakala Tertua di Tanah Jawa, Wisata Dieng

On January 14, 2019 with No comments

Candi Arjuna adalah salah satu candi Hindu tertua di Jawa yang berlokasi di kawasan dataran tinggi Dieng dan masuk ke dalam wilayah Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Candi Dieng Arjuna ini menempati sebuah lahan yang cukup luas yang didalamnya terdapat beberapa candi, yakni Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa dan Candi Sembadra.
Candi dieng candi arjuna sejarah candi mataram kuno di dataran tinggi dieng
Candi Dieng Kompleks Candi Arjuna Dieng Banjarnegara
DOTGO.ID. Sejarah. Candi Arjuna adalah salah satu situs peninggalan purbakala tertua di tanah Jawa, yang menurut prasasti berangka tahun 731 Saka atau 808 Masehi disebutkan, Candi Arjuna merupakan Candi tertua yang pertamakali dibangun di kawasan dataran tinggi berpenghuni tersebut.

Candi Arjuna yang bentuk bangunannya masih sangat kental bercorak candi Hindu di India ini dibangun pada sekitar abad 8 Masehi, atau abad 7 Saka di zaman Dinasti Sanjaya dari Mataram Kuno. Candi Arjuna adalah tempat penyembahan untuk Dewa Siwa (Ciwa).

Berbeda dengan candi-candi lain yang berada di kompleks pecanden ini, bentuk Candi Arjuna memang masih sangat serupa dengan Candi Hindu yang ada di India. Sementara beberapa candi lainnya yakni Candi Srikandi, Candi Puntadewa dan Candi Sembadra, bentuknya sudah menyerupai candi Hindu khas Jawa Tengah.

Meski demikian, secara garis besar seluruh candi yang ada di kompleks Candi Arjuna memiliki ornamen yang serupa. Berbeda dengan ketiga candi yang lain, Candi Arjuna memiliki candi sarana atau perwara, yaitu Candi Semar yang letaknya berhadap-hadapan.

Di masa lalu, Candi Semar sebagai perwara atau candi sarana ini biasa dimanfaatkan sebagai tempat berkumpulnya para jemaat sebelum melakukan persembahan atau bersembahyang (Syiwa) di candi utama yaitu Candi Arjuna.

Sementara Candi Srikandi yang letaknya berada di samping kiri Candi Arjuna biasa digunakan untuk melakukan persembahan atau bersembahyang Trimurti, yakni tiga kesatuan dewa utama Hindu (Brahma, Wisnu dan Syiwa).

Di kompleks Candi Arjuna yang meliputi Candi Semar, Candi Srikandi, Puntadewa dan Candi Sembadra, terlihat jelas adanya ornamen yang terdapat pada pegangan tangga menuju pintu masuk candi, atau yang dikenal dengan sebutan penil.

Di bagian atas pintu masuk candi, terdapat wajah raksasa tanpa rahang bawah yang biasa disebut (batara) Kala. Selain itu, terdapat juga bentuk raksasa yang menyerupai binatang laut yang disebut Makara, yang diyakini mampu mengusir setan (jahat).

Terdapat juga saluran air untuk mengalirkan air dari dalam candi ke salah satu sisi candi yang biasa disebut Jalatmara. Sementara di bagian atas (puncak) candi, terdapat bentuk ornamen yang diyakini sebagai tempat masuknya para dewa, yang disebut Istadewa.

Meski demikian, para wisatawan yang mengunjungi Candi Arjuna atau juga candi-candi lainnya tak akan menjumpai arca atau patung yang biasa dijumpai di dalam candi. Sebagian besar arca-arca tersebut disimpan di Museum Kailasa, untuk menjaganya dari ulah tangan-tangan jahat.

Berdasar pada prasasti berangka tahun 731 Saka atau sekitar abad 808 Masehi yang ditemukan di sekitar kompleks Candi Arjuna, diperkirakan bahwa pembangunan Candi Arjuna yang diyakini sebagai candi pertama dimulai pada abad 7 Caka atau awal abad 8 Masehi.

Sejarah Candi Arjuna Dieng sendiri bermula pada awal abad 18, saat seorang tentara Belanda bernama Theodorf van Elf melihat adanya candi yang sebagian besar bangunannya tergenang air. Saat itu, bangunan candi dikelilingi genangan air seperti danau.

Penemuan itu kemudian menjadi bahan awal untuk meneliti lebih jauh terkait kondisi Candi Arjuna tersebut. 40 tahun kemudian, seorang berkebangsaan Inggris bernama HC. Cornelius melakukan uapaya pertama untuk menyelamatkan Candi Arjuna Dieng.

Beberapa catatan menyebutkan, upaya HC. Cornelius ini kemudian dilanjutkan oleh seorang berkebangsaan Belanda di era kolonial bermama J van Kirnbergens, hingga akhirnya Candi Arjuna kembali dikenal luas oleh masyarakat.

Selain Candi Arjuna, di kompleks pecandian Dieng ini juga ada beberapa candi lain seperti Candi Setyaki yang jaraknya hanya sekitar 200 meter dari Candi Arjuna. Candi Setyaki yang juga sebagai tempat pemujaan Syiwa ini diyakini berusia sama dengan Candi Arjuna.

Selain itu, ada juga Candi Gatotkaca yang lokasinya kini berada di sebelah area parkir kendaraan. Sementara Candi Bima (Werkudara) menjadi candi yang lokasinya berada di bagian paling ujung kompleka Candi Dieng.

Sebagian besar candi yang ada di Dieng sendiri memang dinamai dengan nama-nama tokoh pewayangan, yang bersumber dari wiracarita Mahabharata. Selain candi-candi tersebut, sebenarnya masih cukup banyak candi lain namun hanya tersisa reruntuhan atau pondasinya saja.

Untuk bisa memasuki Candi Arjuna dan candi-candi lain di Dieng, pengunjung hanya perlu membayar tarif yang cukup murah, yakni Rp 15.000 (Januari 2019) untuk wisatawan lokal. Sementara untuk wisatawan mancanegara, tarif yang berlaku adalah dua kali lipatnya.

Selain Candi Arjuna dan candi-candi Dieng lainnya, pengunjung juga bisa mengakses Museum Kailasa tempat menyimpan arca, Kawah Sikidang, Sendang Maerokoco atau juga Sendang Sedayu, yang lokasinya relatif berdekatan.

Candi Arjuna sendiri biasanya dijadikan sebagai tempat pelaksaan Hari Galungan umat Hindu, kadang juga dijadikan sebagai tempat untuk meruwat anak gimbal. Sebelum diruwat (dipotong rambut) anak gimbal biasanya akan diarak berkeliling kampung.

Saat akhir pekan, pengunjung di kompleks Candi Arjuna Dieng biasanya akan dihibur oleh para seniman yang berdandan layaknya tokoh pewayangan. Selain biasa memperagakan sendratari, para seniman ini juga bisa diajak untuk foto bersama atau juga selfie.
Candi Arjuna situs purbakala di dataran tinggi Dieng Jawa Tengah
Selain sebagai kawasan wisata, dataran tinggi Dieng juga dikenal sebagai sentra hortikultura atau penghasil sayuran terbesar di Jawa. Bentang alam Dieng juga terbilang cukup menawan dan akan membuat betah para wisatawan. mch/baim
-->
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »