ADVERTISEMENT

Search This Blog

Powered by Blogger.

Gembyung Sejarah Seni Tradisi Buhun Subang dari Masa Awal Penyebaran Agama Islam

On September 07, 2019 with No comments

Gembyung Subang adalah salah satu seni tradisi yang cukup populer di wilayah Subang Jawa Barat. Berbeda dengan kesenian lain, seni Gembyung buhun yang menurut sejarahnya berkembang di kalangan santri pesantren (di masa awal syiar Islam) ini masih tetap bertahan dengan ciri dan keasliannya.
Gembyung Kesenian Khas Subang yang berasal dari masa penyebaran agama Islam di Subang
Gembyung Seni Tradisi Buhun Khas Subang Jawa Barat
DOTGO.ID. Subang. Gembyung adalah salah satu seni budaya yang sangat familiar bagi sebagian besar warga Subang. Tak hanya sebagai seni budaya, Gembyung juga bahkan dianggap cukup sakral karena berkaitan dengan sejarah leluhur di masa silam.

Sejarah Gembyung Subang sendiri diyakini berawal dari era penyebaran agama Islam di Jawa Barat khsusnya di Subang. Kala itu, para santri akan memainkan Seni Terbang yang lalu menjadi Seni Gembyung dengan dibimbing langsung oleh para kokolot (sesepuh) pesantren dan ajengan.

Gembyung yang sudah ada sejak zaman para wali (Sunan Gunung Jati Cirebon) ini masih tetap bertahan dan eksis, tentunya dengan beragam variasi yang selaras dengan seni dan budaya yang ada di Subang.

Konon, kata Gembyung sendiri berasal dari dua suku kata yakni Gem yang berarti agem-agem atau ageman. Secara bahasa, agem-agem atau ageman (pusaka) ini bermakna sebagai sebuah faham atau ajaran yang dianut (pedoman).

Sementara Byung sendiri berasal dari kata Sunda Kabiruyungan, yang berarti niat untuk mewujudkan atau melaksanakan. Jika digabung, kata Gembyung memiliki makna melaksanakan ajaran (dakwah atau syiar Islam).

Selain alat musik utama berupa genjring (rebana besar khas Timur Tengah) yang dipadu dengan alat tabuh (gamelan) khas Sunda seperti kendang, terompet, saron, dog-dog, hingga kecrek, Gembyung juga selalu melantunkan tembang atau kakawih yang sarat makna.

Syair dalam kawih seni Gembyung khas Subang ini sendiri memang sangat kental dengan unsur dakwah dan juga ajakan untuk tetap melestarikan (ngamumule) seni budaya leluhur.

Kakawihan dalam pentas seni budaya Gembyung Subang ini juga sarat makna sejarah buhun, sebagai bentuk penghormatan terhadap para leluhur Tatar Sunda. Karenanya, Gembyung juga diyakini sebagai salah satu seni tradisi buhun yang dianggap cukup sakral.

Ada cukup banyak kawih khas seni Gembyung buhun seperti lagu yaa bismillah, siuh, lagu engko, geboy, rincik manik dan raja sirah. Meski demikian, para nayaga dan juru kawih juga bisa membawakan lagu lain jika ada penonton yang meminta.

Waditra (alat musik Sunda) dalam seni Gembyung sendiri biasanya terdiri dari genjring gembrung, genjring kempreng, genjring kempring, kendang (pencak), dog-dog, terompet, saron hingga kecrek. Terdapat juga juru kawih (sinden) dan penari Gembyung.

Saat berpentas, rengrengan seni Gembyung ini akan selalu memakai pakaian tradisional adat Sunda berupa baju pangsi serba hitam dan iket untuk pria, sementara untuk wanita (juru kawih dan penari) akan memakai kain kebaya, sanggul, dan  juga kain selendang (untuk penari).

Sebagai salah satu seni budaya buhun Subang, para seniman Gembyung sendiri masih terus berusaha untuk tetap bisa melestarikan keaslian dari seni Gembyung, ditengah serbuan budaya populer yang modern.
Gembyung Lingkung Seni Galih Pusaka Putra Subang
Di wilayah Subang Jawa Barat, ada beberapa grup seni Gembyung diantaranya adalah Lingkung Seni Gembyung Galih Pusaka Putera dari Cicadas Dangdeur Subang, yang bisa dihubungi di nomor 0813 2191 9444. mch
-->
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »