ADVERTISEMENT

Search This Blog

Powered by Blogger.

Wayang Kulit Sejarah Media Dakwah Islam Sejak Zaman Walisanga Sunan Kalijaga

On September 04, 2019 with No comments

Wayang Kulit Cakra Baskara adalah salah satu grup atau paguyuban seni wayang purwa yang berasal dari Desa Tanjungtiga Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang Jawa Barat. Wayang Kulit Cakra Baskara dengan dalang Ki Enang Sutriya menjadi salah satu ikon budaya dari entitas pecinta seni wayang kulit di seputaran wilayah pesisir utara Subang.
Sejarah Wayang Kulit yang Berasal dari Wayang Beber Mahabharata dan ramayana
Sejarah Wayang Kulit Sarana Dakwah Islam di Pulau Jawa
DOTGO.ID. Sejarah. Wayang Kulit adalah salah satu seni tradisi paling populer di kalangan masyarakat Indonesia terutama di pulau Jawa dan beberapa wilayah lain di nusantara. Selain di Indonesia, wayang kulit ini juga cukup dikenal di negeri jiran Malaysia.

Wayang kulit sendiri adalah sebuah seni tradisi rakyat yang berkembang pesat pasca masuknya Islam di era Wali Sanga. Sebelumnya, penduduk Jawa lebih dulu mengenal Wayang Beber yang diyakini sudah sejak abad 12.

Wayang Beber adalah sebuah lukisan dalam kain atau pun kertas yang menceritakan kisah dalam wira carita Mahabharata atau pun Ramayana. Bentuk lukisan wayang beber konon sangat menyerupai bentuk manusia, sesuai dengan tokoh yang ada dunia pewayangan.

Saat pementasan, wayang beber ini akan dibeber (dibentang) di atas panggung, dan setiap lembar lukisan masing masing menjadi gambaran dari kisah yang bersumber dari epos Mahabharata atau pun Ramayana tersebut.

Menurut beberapa catatan, Wayang Beber hingga kini masih ada dan sesekali masih tetap dimainkan di beberapa tempat di Jawa seperti daerah Donorojo Pacitan, atau di Desa Bejirejo Karangmojo Gunungkidul, DIY.

Sejarah wayang kulit sendiri bermula saat Sunan Kalijaga berniat menggunakan seni tradisi wayang sebagai media dakwah. Sunan Kalijaga lantas mengadopsi seni Wayang Beber menjadi Wayang Kulit seperti yang lazim dilihat saat ini.

Sunan Kalijaga lantas mengubah bentuk tokoh wayang dari yang semula sangat mirip dengan manusia, menjadi bentuk yang menyerupai ornamen seperti yang terlihat saat ini.

Selain bentuk tokoh pewayangan, Sunan Kalijaga juga sedikit merubah alur cerita (cerita carangan) termasuk menambah beberapa tokoh wayang diantaranya Ki Semar dan para Punakawan seperti Petruk (Cungkring), Gareng, dan Bagong.

Tak hanya itu, para wali khususnya Sunan Kalijaga juga banyak menggubah tembang dan gamelan, agar seni Wayang Kulit ini bisa lebih mudah diterima oleh masyarakat Jawa. Cukup banyak pula syair yang berisi shalawatan dan puji pujian, yang bertujuan menjadikan wayang sebagai sarana syiar Islam.

Saat mementaskan wayang kulit, Sunan Kalijaga meminta syarat agar warga yang ingin menonton harus mengambil air wudhu dan mengucapkan dua Kalimat Syahadat. Sejak itu, wayang kulit versi Sunan Kalijaga pun mulai digemari dan ajaran Islam pun mulai berkembang sangat pesat.

Hingga kini, kesenian Wayang Kulit ini sendiri masih sangat digemari oleh sebagian besar masyarakat di pulau Jawa. Alur cerita dan gamelan pengiring wayang kulit pun makin beragam, sesuai dengan budaya yang berkembang di masing masing daerah.

Selain wayang kulit, terdapat juga Wayang Cepak atau Wayang Golek yang hingga kini masih sangat eksis di sebagian besar wilayah Jawa Barat, termasuk juga daerah Bekasi hingga DKI Jakarta (Wayang Betawi).

Di daerah pesisir utara Jawa Barat yang memiliki percampuran dua budaya yaitu Sunda dan Jawa, wayang kulit juga sangat digemari oleh masyarakat di wilayah pesisir Cirebon, Indramayu, Subang bahkan hingga sebagian Karawang.
Pentas Wayang Kulit Cakra Baskara Ki Dalang Enang Sutriya
Di daerah Pantura Subang, saat ini juga terdapat beberapa tokoh dalang yang cukup populer diantaranya Dalang Enang Sutriya dari paguyuban seni Wayang Purwa Cakra Baskara dari Desa Tanjungtiga Kecamatan Blanakan. mch
-->
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »