Gatotkaca Jadi Raja Lakon Wayang Jawa Brajamusti Gugat Bagian Keempat

Perang tanding Gatotkaca melawan Brajamusti berjalan tak imbang, karena meski sudah ditempa dan dibekali bermacam ilmu oleh para Dewa, namun Gatotkaca masih belum bisa menandingi Brajamusti. Dalam suatu kesempatan, Brajamusti bahkan berhasil memukul roboh Gatotkaca. Meski demikian, ilmu dan busana dari kadewatan masih bisa membuat Gatotkaca bertahan.
Wayang Kulit Lakon Gatotkaca Menjadi Raja Digugat Brajamustu
Lakon Wayang Kulit Purwa Gatotkaca Dadi Raja
DOTGO.ID. Wayang kulit Lakon Gatotkaca Menjadi Raja yang dibumbui dengan adu perang tanding antara Brajamusti dan Gatotkaca yang dibantu Dewi Arimbi menjadi semakin seru saat Brajamusti berniat membuat Gatotkaca Binasa.

Dikisahkan sebelumnya, Gatotkaca dan Brajamusti terlibat adu perang tanding karena persoalan takhta kerajaan. Gatotkaca yang baru saja diangkat jadi raja tentu tak mau begitu saja jika haknya diambil oleh Brajamusti.

Keduanya lantas bertarung secara ksatria untuk menentukan siapa yang lebih pantas menjadi raja di negeri Pringgadani. Dalam perang tanding tersebut, Gatotkaca beberapa kali terdesak namun selalu mendapat bantuan Arimbi.

Dewi Arimbi membantu Gatotkaca secara diam diam dengan cara masuk meraga sukma ke dalam tubuh Gatotkaca. Brajamusti pun merasa heran melihat Gatotkaca yang sudah hampir kalah selalu bisa bangkit dan melawan.

Karena merasa sangat penasaran, Brajamusti pun kembali pergi meninggalkan arena adu perang tanding. Brajamusti ingin kembali memastikan bahwa Arimbi kakak angkatnya, tak lagi membantu Gatotkaca.

Brajamusti lalu berkata, "Apakah Kakang Arimbi memberi izin jika hari ini Gatotkaca binasa, dan takhta negeri Pringgandani akan diambil alih?," begitulah kata Brajamusti.

Arimbi lantas menjawab, "Silahkan saja jika memang Brajamusti bisa dan mampu membuat Gatotkaca binasa," jawab Dewi Arimbi.

Meski demikian, dalam hati Arimbi tentu saja tak rela jika Gatotkaca binasa ditangan Brajamusti. Dewi Arimbi pun bertekad akan memberi pelajaran pada Brajamusti, sekaligus mengakhiri adu perang tanding ini.

Dengan penuh rasa percaya diri, Brajamusti lalu kembali maju ke arena adu perang tanding. Brajamusti lalu mengajak Gatotkaca untuk bertempur sekali lagi, hingga di antara keduanya ada yang perlaya (tewas).

Dengan sukma Dewi Arimbi yang berada dalam tubuhnya, Gatotkaca lalu berkata, "Paman Brajamusti sepertinya bukan mau memberi pelajaran kepada keponakan, tapi berniat untuk membinasakan," kata Gagak Sengara Gatotkaca.

Brajamusti pun menjawab, "Benar sekali, karena aku ingin menuntut balas kematian Kakang Arjuna Banjarpati (Arimba) yang tewas ditangan Bima Sena (ayah Gatotkaca)," tegas Brajamusti.

Untuk kesekian kalinya, Gatotkaca dan Brajamusti kembali terlibat adu perang tanding. Keduanya saling pukul, saling tendang, dan saling beradu ilmu kesaktian.

Pada suatu kesempatan, sukma Dewi Arimbi yang berada dalam tubuh Gatotkaca ini mengeluarkan seluruh ilmu dan kekuatan melalui tangan Gatotkaca dan lantas menghantam Brajamusti. Terkena hantaman Gatotkaca yang di dalamnya ada sukma Dewi Arimbi, Brajamusti pun jatuh.

Merasa sangat kaget dan tak akan mampu menandingi Gatotkaca yang tiba-tiba saja menjadi jauh lebih kuat dan sakti, Brajamusti lalu pergi meninggalkan Keraton Pringgandani.

Setelah Brajamusti pergi, Arimbi lalu berkata, "Ilmu dan kesaktian dari para dewa sepertinya masih belum ada artinya untuk melawan Brajamusti, Ananda Gatotkaca harus kembali berguru menuntut ilmu," ujar Arimbi.

Arimbi berpesan agar Gatotkaca berguru pada Sura Wangkara dan meminta ilmu di antaranya Ajian Tapak Manggala, Bajing Akiring dan Sapta Pangrungu. Dengan ilmu tersebut, Arimbi yakin Brajamusti tak akan berani mengusik Gatotkaca lagi.

Setelah berhasil mendapat ilmu tersebut, Gatotkaca juga diberi pesan agar ia pergi menuju Alas Amer untuk membantu Bima Sena, ayahnya.

Bima sendiri sedang membabat hutan Amer, sebagai syarat untuk ditukar dengan Negeri Hastina yang saat itu sedang dikuasai oleh para Korawa. Meski demikian syarat tersebut hanya tipu daya Korawa, agar Bima tewas oleh penguasa Alas Amer.

Dalam salah satu lakon wayang Jawa dikisahkan, negeri Pringgandani atau Plawangan ini pernah dikudeta oleh Brajadenta (saudara Brajamusti), yang secara tiba-tiba saja ingin menjadi raja di Pringgadani.

Saat Brajadenta mengamuk di tengah kraton Pringga, Brajamusti justeru datang dan membantu Gatotkaca. Brajamusti dan Brajadenta lalu bertarung. Karena sama-sama sakti dan bukan berasal dari bangsa manusia, keduanya lalu hilang dan sirna.

Brajamusti moksa dan masuk ke tangan kanan Gatotkaca, sedang Brajadenta masuk ke tangan kiri Gatotkaca. Dengan kedua paman angkat yang berada di tangan kanan dan kirinya, Gatotkaca pun menjadi semakin sakti mandraguna.

Jika Brajamusti berasal dari sebilah keris pusaka sakti, maka Brajadenta adalah jelmaan dari pusaka gada (palu besar) Maha Prabu Arimba (kakak Arimbi) yang juga terkena tuah saat dihantam Tombak Pusaka Kyai Plered.
Berbeda dengan versi asli Mahabharata di India, lakon Gatotkaca Dadi Raja versi wayang Jawa ini cukup kaya akan filosofi budaya Jawa. Tak hanya itu, beberapa tokoh wayang juga muncul sebagai bentuk manifestasi dari tokoh tokoh populer tanah Jawa di masa lampau.
Gatotkaca Dadi Raja Pagelaran Wayang Kulit Purwa
Selain Gatotkaca Jadi Raja, lakon wayang populer lainnya adalah Petruk Dadi Raja atau Cungkring Jadi Raja, yang juga merupakan salah satu cerita gubahan (lakon carangan) para dalang dan pujangga Jawa di masa silam. baim
Soeara Rakjat Pecinta Seni, Budaya, dan Wisata

0 Response to "Gatotkaca Jadi Raja Lakon Wayang Jawa Brajamusti Gugat Bagian Keempat"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel